Reuters: Iran Tolak Tuntutan Berlebihan AS, Negosiasi Mandek
POROS PERLAWANAN — Teheran menegaskan tidak akan menerima tuntutan berlebihan Washington dalam proses negosiasi yang hingga kini belum bergerak maju. Laporan Reuters pada Sabtu 25 April, mengutip diplomat Iran yang menyatakan posisi tersebut di tengah meningkatnya ketegangan Kawasan.
Sumber diplomatik Iran di Islamabad menyebut tuntutan Amerika Serikat tidak realistis dan tidak dapat diterima. Pernyataan ini menguatkan garis kebijakan Teheran dalam menghadapi tekanan politik dan diplomatik dari Washington.
Spekulasi tentang kelanjutan perundingan masih berlangsung. Namun belum ada konfirmasi resmi mengenai pengiriman delegasi kedua negara untuk melanjutkan putaran dialog berikutnya.
Reuters melaporkan hubungan Iran dan Amerika Serikat berada dalam kebuntuan. Pada saat yang sama, Iran disebut membatasi secara signifikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak global.
Eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran turut mendorong harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya meluas ke peningkatan inflasi global dan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyampaikan posisi resmi negaranya tentang perkembangan terbaru, termasuk dorongan gencatan senjata dan penghentian penuh agresi militer terhadap Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tetap mempertahankan sikap keras. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyatakan tidak akan mengirim utusan khusus, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan.
Kondisi ini menegaskan jarak posisi kedua negara masih lebar, sementara tekanan geopolitik dan ekonomi terus meningkat tanpa sinyal de-eskalasi dalam waktu dekat.
