Reuters: Kilang Minyak AS Diuntungkan dari Serangan terhadap Venezuela
POROS PERLAWANAN — Kilang minyak Amerika Serikat disebut menjadi pihak yang paling diuntungkan dari serangan Washington terhadap Venezuela dan penculikan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Dampak tersebut terutama terlihat pada potensi perubahan jalur ekspor minyak mentah Venezuela.
Menurut laporan IRNA pada Minggu 4 Januari, Reuters menilai aksi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela berpeluang mengalihkan ekspor minyak negara itu ke pasar AS, sekaligus mengurangi pasokan ke kilang-kilang minyak di Tiongkok.
Dalam laporannya, Reuters menyebut peningkatan ekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat akan menguntungkan kilang-kilang di Pantai Teluk Meksiko yang dirancang khusus untuk mengolah minyak berat Venezuela. Impor minyak mentah AS diperkirakan dapat bertambah lebih dari 200.000 barel per hari dalam beberapa bulan mendatang. Secara historis, ekspor minyak Venezuela ke AS pernah mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari pada dekade 1990-an, sebelum anjlok akibat sanksi internasional dan persoalan domestik.
Reuters juga mencatat peningkatan signifikan produksi minyak Venezuela tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Kembalinya perusahaan energi besar AS seperti Chevron, Exxon Mobil, dan Shell memerlukan investasi besar, stabilitas politik, serta kepastian penegakan kontrak. Beban utang Venezuela kepada perusahaan-perusahaan tersebut turut menjadi hambatan utama pemulihan industri minyak nasional.
Bahkan dalam skenario paling optimistis, Reuters memperkirakan produksi minyak Venezuela baru dapat mencapai sekitar 2 juta barel per hari dalam kurun sepuluh tahun.
Laporan itu menegaskan dinamika pasar minyak global semakin dipengaruhi keputusan politik dan militer Amerika Serikat. Perubahan jalur geografis dan komersial minyak Venezuela dinilai kian menguntungkan kilang-kilang AS, sekaligus merugikan importir minyak di Tiongkok.
