Sambut Baik Normalisasi UEA-Suriah, Teheran Teken Kesepakatan Ziarah dengan Damaskus
POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, Teheran dan Damaskus telah menandatangani perjanjian untuk melanjutkan pengiriman peziarah ke Suriah, ketika Damaskus tengah memperbarui kehadirannya di Kawasan, dengan negara-negara Arab regional menormalkan hubungan mereka dengan Suriah.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Kepala Organisasi Haji dan Ziarah Iran, Alireza Rashidian dan Menteri Pariwisata Suriah, Mohammad Rami Radwan Martini selama kunjungan ke Suriah.
“Masalah kesehatan, kepatuhan terhadap protokol kesehatan, dan keselamatan jemaah peziarah sangat penting dalam memantapkan kembali perjalanan ini,” kata Rashidian usai pertemuan, Kamis.
Dia menambahkan, “Pembukaan kembali rute ziarah ini akan membawa kegembiraan bagi para peziarah Iran.”
Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga menyambut baik pembentukan kembali hubungan antara Suriah dan negara-negara Arab lainnya di Kawasan, dengan mengatakan bahwa langkah-langkah seperti itu akan menguntungkan kedua belah pihak.
“Suriah selalu menjadi salah satu negara paling penting dan paling berpengaruh di dunia dan kawasan Arab, dan kehadiran baru Suriah di kawasan itu akan mengarah pada pertumbuhan dan dinamisme lebih lanjut di kawasan ini,” kata Jubir Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh, Kamis.
Dalam beberapa bulan terakhir, telah terjadi perlombaan di antara negara-negara Arab untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Pemerintah Suriah, sepuluh tahun setelah dimulainya konflik di Suriah, seiring langkah negara-negara Arab utama mencoba menggulingkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Juga pada Kamis, Suriah menandatangani kontrak dengan sekelompok perusahaan Emirat untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya di pinggiran kota Damaskus.
Menurut media Pemerintah Suriah, pembangkit listrik tenaga surya akan dibangun di pinggiran timur Damaskus, Widyan al-Rabie.
Proyek tersebut akan memakan waktu dua tahun untuk diselesaikan dan akan menghasilkan 300 megawatt pada tingkat puncak.
Bulan lalu, Kementerian Kelistrikan Suriah mencapai kesepakatan senilai $115 juta dengan perusahaan Iran untuk merehabilitasi pembangkit listrik di provinsi Hama, Suriah tengah.
Pada Selasa, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Abdullah bin Zayed Al Nahyan melakukan perjalanan ke Damaskus untuk pertama kalinya setelah satu dekade, dan bertemu dengan pejabat tinggi Suriah, termasuk Presiden Assad.
Pendekatan baru yang diadopsi oleh UEA, yang telah terbukti jauh lebih cepat daripada negara-negara Arab lainnya dalam membuat perubahan kebijakan luar negeri yang cukup besar untuk mengamankan kepentingannya, disambut oleh Presiden Suriah sebagai “realistis dan benar”.
Pada saat yang sama, langkah itu ditolak oleh AS, yang mengatakan “tidak akan menyatakan dukungan apa pun untuk upaya menormalkan” hubungan dengan Assad.
Perubahan pendekatan terhadap Pemerintah Damaskus dimulai setelah penarikan Amerika Serikat yang tergesa-gesa dan membawa bencana dari Afghanistan, ketika Washington meninggalkan sekutunya, termasuk Pemerintah Ashraf Ghani, sendirian melawan kelompok militan Taliban.
