Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Sanaa: Proposal Perdamaian Saudi Hanya Kedok Tutupi Kejahatan Kejinya atas Rakyat Yaman

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, Ketua Dewan Politik Tertinggi Yaman telah menolak mentah-mentah apa yang disebut inisiatif perdamaian Arab Saudi atas konflik di negaranya, menekankan bahwa tawaran semacam itu dimaksudkan untuk menyembunyikan kejahatan keji yang dilakukan rezim Riyadh dan sekutunya terhadap negara Yaman.

“Berlanjutnya blokade AS-Saudi yang melumpuhkan dan agresi terhadap rakyat kami selama tujuh tahun membuktikan kepada seluruh dunia bahwa negara-negara penyerang serta Washington tidak menghormati nilai dan prinsip kemanusiaan apa pun,” kata Mehdi Mohammad Hussein al-Mashat dalam pesannya pada penyambutan bulan suci Ramadan.

Dia menambahkan, “Pembicaraan mereka tentang perdamaian pada saat yang sama terus maju dengan agresi dan pengepungan mereka hanyalah upaya putus asa untuk menutupi kejahatan mengerikan mereka terhadap orang-orang Yaman.”

Pada 22 Maret, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud mempresentasikan apa yang disebut inisiatif perdamaian untuk mengakhiri perang di Yaman, yang akan mencakup pembukaan kembali bandara Sanaa dan memungkinkan impor bahan bakar dan makanan melalui pelabuhan Hudaydah –kedua fasilitas tersebut berada di bawah kendali gerakan Ansharullah.

Diplomat tinggi Saudi mengatakan pada konferensi pers pada saat itu bahwa negosiasi politik antara perwakilan Pemerintah yang didukung Saudi, yakni komplotan mantan Presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Hadi dan gerakan Ansharullah akan dilanjutkan sebagai bagian dari inisiatif perdamaian.

Al Saud mengatakan inisiatif itu akan diberlakukan setelah pihak Yaman menerimanya.

Menanggapi proposal tersebut, Jubir Ansharullah, Mohammed Abdul-Salam kemudian menanggapi dengan mengatakan bahwa inisiatif itu tidak menawarkan “sesuatu yang baru”, dan tidak memenuhi permintaan gerakan untuk mencabut sepenuhnya blokade di bandara Sanaa dan pelabuhan Hudaydah.

“Kami berharap Arab Saudi akan mengumumkan diakhirinya blokade pelabuhan dan bandara dan inisiatif untuk mengizinkan 14 kapal yang ditahan oleh Koalisi,” katanya. Sebuah “hak kemanusiaan” tidak boleh digunakan sebagai alat tekanan.

Mashat juga dengan getir mengecam penahanan dan penghinaan terhadap ribuan pria, wanita dan anak-anak Yaman di penyeberangan perbatasan dengan Arab Saudi.

Dia menggarisbawahi bahwa rakyat Yaman berhak untuk membela diri, dan bahwa mereka akan terus menghadapi agresi dan blokade yang dipimpin Saudi dengan semua cara sah yang tersedia.

Arab Saudi, didukung oleh AS dan sekutu regional lainnya, melancarkan perang dahsyat di Yaman sejak Maret 2015, dengan tujuan membawa pemerintahan mantan presiden Yaman yang setia pada Riyadh kembali berkuasa dan menghancurkan Gerakan populer Ansharullah.

Angkatan Bersenjata Yaman dan sekutu Komite Populer, bagaimanapun, telah semakin kuat melawan penjajah yang dipimpin Saudi, membuat Riyadh dan sekutunya terpojok di negara itu.

Tags: