Loading

Ketik untuk mencari

Analisa Iran

Sayyid Ali Khamenei: Bersandar pada Rezim Zionis Hanyalah Jalan Menuju Kehinaan dan Ketidakamanan

POROS PERLAWANAN – Pidato Ayatullah al-Uzdma Sayyid Ali Khamenei dalam peringatan haul ke-36 Imam Khomeini, yang berlangsung pada Rabu pagi, 4 Juni 2025 di makam pendiri Republik Islam Iran, bukan sekadar kilas balik atas warisan intelektual dan revolusioner almarhum Imam. Lebih dari itu, pidato ini merupakan deklarasi prinsipil, sebuah penegasan ulang atas fondasi ideologis perlawanan terhadap dominasi global dan penjajahan, serta peringatan tegas kepada para pemimpin dunia Islam yang terbuai oleh fatamorgana keamanan semu yang ditawarkan oleh entitas Zionis dan para patronnya.

Dengan nada tenang namun penuh ketegasan, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran mengungkapkan keprihatinan mendalam atas bentuk-bentuk baru kekejaman yang menimpa rakyat Gaza, kejahatan yang kini tidak hanya dilakukan secara militer, tetapi juga diselubungi dalam kemasan bantuan kemanusiaan, yang pada hakikatnya menjadi instrumen penghancuran.

“Tingkat kehinaan, kekejaman, dan kebiadaban ini sungguh mencengangkan,” ujar beliau, menggambarkan realitas genosida terselubung yang melampaui batas-batas perang konvensional.

Ayatullah Khamenei tidak berhenti pada kecaman moral belaka. Beliau secara gamblang menyingkap keterlibatan langsung Amerika Serikat sebagai pilar utama yang menopang kelangsungan kekejaman Zionis, baik melalui dukungan militer, diplomatik, maupun intelijen.

“Itulah sebabnya kami bersikeras bahwa Amerika harus meninggalkan kawasan ini,” tegasnya.

Namun, inti dari pidato tersebut menyasar nurani dan tanggung jawab para pemimpin Muslim, bahwa bersikap netral, diam, apalagi menjalin hubungan dengan entitas Zionis, merupakan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal.

Dalam pernyataan yang lugas dan tak menyisakan ruang untuk ambiguitas, beliau menyampaikan: “Jika sebuah Pemerintahan Islam mendukung rezim ini dengan cara apa pun, baik melalui normalisasi hubungan, menghalangi bantuan ke Palestina, atau membenarkan kejahatan yang dilakukan rezim ini, maka ia harus tahu bahwa rasa malu abadi akan melekat pada dahinya.”

Ini bukan semata seruan etis, melainkan juga pernyataan strategis yang tajam. Rezim Zionis, menurut beliau, bukanlah sumber keamanan, melainkan bom waktu yang sedang menuju kehancuran. Tidak ada perlindungan sejati yang bisa diperoleh dari entitas yang dibangun di atas kezaliman dan ketakutan.

“Bersandar pada rezim Zionis tidak akan menciptakan keamanan bagi pemerintahan mana pun. Karena rezim ini sedang menuju kehancuran atas perintah Ilahi, dan bila Allah berkehendak, kehancurannya tidak akan lama lagi.”

Di tengah atmosfer diplomasi palsu dan kalkulasi geopolitik yang transaksional, pidato Ayatullah Khamenei hadir sebagai mercusuar moral dan arah strategis. Pidato yang menggarisbawahi perbedaan mencolok antara pemimpin yang bersedia menanggung risiko demi kebenaran, dan mereka yang memilih jalan kompromi yang memalukan.

Normalisasi hubungan bukanlah perdamaian, melainkan bentuk permufakatan dengan penjajahan. Lebih dari itu, normalisasi adalah pengkhianatan terhadap sejarah luka dan harapan umat.

Tidak ada kemuliaan, keamanan, atau stabilitas yang dapat diperoleh dari entitas yang berdiri di atas darah anak-anak Gaza dan reruntuhan al-Quds.

Dalam pidatonya itu, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa masa depan hanya akan dimenangkan oleh mereka yang memilih jalan keteguhan, bukan kompromi. Maka sejarah kini tengah mencatat, apakah para pemimpin dunia Islam akan memilih berpihak pada kebenaran dan keadilan, atau justru dikenang sebagai bagian dari kepengecutan kolektif yang membiarkan Palestina hancur oleh roda penjajahan?

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *