Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sekjen Hizbullah: Tidak Ada Manfaat Mundur dari Tekanan AS–Israel

POROS PERLAWANAN – Dalam pidatonya yang disiarkan Al-Manar pada Senin malam (17/11), Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sheikh Naim Qassem, menolak tekanan berlebihan Amerika Serikat dan rezim Zionis yang ditujukan kepada Lebanon. Pidato ini disampaikan dalam upacara peringatan satu tahun kesyahidan Mohammad Afif, ketua divisi hubungan media Hizbullah. Sheikh Qassem menegaskan bahwa langkah mundur menghadapi tindakan agresif tersebut tidak akan membawa manfaat apa pun bagi negara.

Upacara berlangsung di Kompleks Imam Hassan al-Mujtaba (AS), pinggiran Beirut, untuk mengenang Mohammad Afif beserta para sahabatnya: syahid Mahmoud al-Sharqawi, syahid Musa Haidar, syahid Hilal Termes, dan syahid Hussein Ramadan.

Sheikh Qassem menggambarkan Haji Mohammad Afif sebagai sosok media yang menonjol dan berkata, “Syahid Haji Mohammad Afif adalah gudang pengetahuan, kesadaran, dan sebuah nama yang bersinar di dunia media.” menurutnya, Afif telah memimpin hubungan media Hizbullah selama lebih dari satu dekade di bawah arahan Sayyid Hassan Nasrallah.

Menurut Sheikh Qassem, Afif memainkan peran krusial dalam menjaga kesinambungan kerja media Hizbullah, terutama setelah wafatnya Sayyid Hassan Nasrallah. “Haji Afif adalah orang pertama yang mengusulkan konferensi pers besar untuk mengisi kekosongan yang terjadi. Kami selalu berkoordinasi dengannya demi memastikan setiap pesan tersampaikan dengan tepat kepada audiens maupun musuh.”

Ia menegaskan bahwa Afif dibunuh karena keberhasilannya membawa narasi perlawanan ke ruang publik dengan akurat dan konsisten dengan garis perjuangan Hizbullah. “Narasi itu mencerminkan realitas perlawanan Islam dan dukungan rakyatnya,” ujarnya.

Dalam penjelasannya mengenai konsep kemenangan dan kekalahan, Sheikh Qassem mengutip pemaparan Afif pada Hari Syahid, bahwa kemenangan sebuah gerakan perlawanan tidak semata-mata terletak pada capaian militer, tetapi pada kemampuan mencegah musuh mencapai tujuan politiknya.

Perlawanan sebagai Jalan Kemerdekaan Lebanon

Memasuki bagian sejarah, Sheikh Qassem menyinggung kembali proses kemerdekaan Lebanon pada 22 November 1943. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan diperoleh melalui perlawanan rakyat, bukan pemberian kekuatan asing. Penangkapan para pemimpin Lebanon oleh Prancis kala itu justru memicu gelombang protes nasional yang memaksa penjajah melepaskan tahanan dan mengakui kemerdekaan.

Sheikh Qassem menegaskan bahwa umat Islam dan Kristen saat itu berdiri bersama membela tanah air. Dan pengalaman tersebut, menurutnya, berulang ketika Israel menduduki wilayah Lebanon selama lebih dari dua dekade sebelum akhirnya dipaksa mundur pada tahun 2000 oleh tekanan perlawanan dan persatuan nasional.

“Pengalaman menunjukkan bahwa bekerja sama dengan musuh hanya mendatangkan aib dan pengucilan sosial,” tegasnya. Dan menambah setiap upaya memberi justifikasi terhadap perilaku Israel setelah pembebasan hanya akan membuka jalan bagi intervensi baru.

Agresi Israel dan Tanggung Jawab Pemerintah Lebanon

Sheikh Qassem menolak anggapan bahwa ketegangan saat ini disebabkan kegagalan Lebanon menjalankan perjanjian gencatan senjata. “Masalah utamanya adalah agresi Israel yang terang-terangan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, Israel berdiri di balik strategi untuk melemahkan kekuatan militer, ekonomi, dan politik Lebanon. Pernyataan UNIFIL tentang tembok Israel yang melintas melewati Garis Biru dan memasuki wilayah Lebanon menjadi bukti bahwa ancaman tersebut bersifat nyata.

Menurutnya, Lebanon harus mengaktifkan seluruh instrumen yang tersedia, termasuk diplomasi, langkah politik, dan perencanaan nasional untuk menghadapi agresi ini. Pemerintah, katanya, memiliki kewajiban membangun solusi yang efektif.

Tekanan AS dan Sikap Tegas Lebanon

Sheikh Qassem mengkritik tuntutan AS dan Israel yang dinilainya berupaya menyeret Lebanon ke jalan yang membahayakan. “Ada pihak yang menyarankan agar syarat-syarat ini diterima, tetapi menyerah berarti menyerahkan negara kepada musuh,” ujarnya.

Ia mengingatkan, sejarah menunjukkan penarikan diri sepihak Lebanon tidak pernah menghasilkan apa pun. Israel, menurutnya, tidak pernah memenuhi komitmen, bahkan setelah Lebanon memberikan berbagai konsesi.

“Kita harus menghentikan pola pikir yang membuka ruang bagi intervensi asing,” katanya, sembari menyoroti peran sebagian aktor dalam negeri yang dinilai berupaya mengalihkan arah negara demi kepentingan pihak luar.

AS sebagai Pilar Agresi

Sheikh Qassem menegaskan bahwa klaim Amerika Serikat sebagai mediator tidak dapat diterima. “Perwalian AS atas Lebanon adalah ancaman serius bagi stabilitas negara. Israel sendiri mengakui bahwa agresinya dilakukan dalam koordinasi penuh dengan AS,” ujarnya.

Qarz al-Hasan dan Perang terhadap Lembaga Sosial

Menanggapi tekanan AS agar Lebanon menutup Yayasan Qarz al-Hasan, Sheikh Qassem menyatakan bahwa lembaga tersebut berperan penting dalam membantu masyarakat miskin. “Ini lembaga sosial, bukan entitas politik. Dan menekan Qarz al-Hasan bukan hanya menekan Hizbullah, tetapi seluruh rakyat Lebanon,” tegasnya.

Membela Nabih Berri dan Stabilitas Negara

Di akhir pidatonya, Sheikh Qassem membela Ketua Parlemen Nabih Berri dari serangan beberapa kelompok politik yang ia nilai membuka peluang intervensi asing. “Nabih Berri adalah elemen stabilitas yang bekerja menjaga kemerdekaan Lebanon,” katanya.

Ia menegaskan bahwa hukum pemilu adalah fondasi legitimasi politik, dan setiap upaya untuk bergerak di luar kerangka tersebut akan melahirkan ketidakadilan serta membuka ruang bagi campur tangan eksternal.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *