Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Selat Hormuz Sama Vitalnya dengan Kapabilitas Rudal dan Nuklir Iran

POROS PERLAWANAN – Sejak perang dimulai dan Selat Hormuz ditutup, Iran menyatakan bahwa jalur perairan paling strategis di dunia itu tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang. Setelah gagalnya rencana penggantian Pemerintahan dan penghancuran kapabilitas rudal Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi tujuan utama Amerika dalam perang saat ini.

Dilaporkan Fars, kebijakan Teheran terkait selat tersebut, secara singkat, adalah sebagai berikut: selama masa perang dan ketegangan, Selat akan ditutup, dan setelah perang, transit akan dimungkinkan di bawah pengelolaan Angkatan Bersenjata Iran, dengan skema seperti pembayaran biaya keamanan.

Jika kita memerhatikan pernyataan para pejabat Amerika, khususnya Trump sendiri, menjadi jelas bahwa beberapa hari setelah perang dimulai, sebagian besar pembahasan hanya berputar di sekitar Selat Hormuz.

Awalnya, Trump mengeklaim akan membukanya. Ia kemudian menyerukan kepada seluruh dunia, termasuk Eropa dan bahkan China, untuk membantu membukanya. Setelah itu, Ia kemudian mengeklaim tidak memerlukan bantuan dari negara lain. Lalu ia mengatakan bahwa Selat Hormuz sama sekali tidak penting baginya. Namun, ia kemudian beralih ke penghinaan terhadap bangsa Iran untuk membukanya. Ia berulang kali menggunakan ancaman serangan terhadap pembangkit listrik untuk membuka selat tersebut. Setelah gencatan senjata, AS berusaha membuka selat tersebut melalui negosiasi dan tekanan politik. Kebuntuan dalam pembicaraan membuat Trump menerapkan blokade laut, dengan harapan Iran akan segera menyerah dan selat tersebut akan dibuka.

Pada akhirnya, AS memainkan kartu terakhirnya untuk membuka selat tersebut. Kemarin, pasukan CENTCOM mengumumkan bahwa mereka akan menjamin keamanan pelayaran kapal tanker minyak. Dalam hal ini, CENTCOM menyatakan bahwa dua kapal perang akan dikerahkan untuk melaksanakan misi tersebut.

Sejak hari pertama, baik perang, ancaman, maupun negosiasi, tidak berhasil meyakinkan Iran untuk membuka selat tersebut. Hanya selama beberapa jam, dan dengan berlakunya gencatan senjata di Lebanon, Teheran mengumumkan bahwa pelayaran terbatas kapal-kapal komersial, asalkan bukan milik musuhnya, akan diizinkan di bawah pengelolaannya dan dikenakan biaya tol. Namun, begitu gencatan senjata dilanggar, Iran kembali menutup selat tersebut sepenuhnya.

Dalam operasi kemarin, seperti yang dilakukannya dua bulan sebelumnya, Iran terus menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz. Meskipun ada upaya dari pasukan Amerika, satu kapal tanker terkena serangan saat mencoba melintas tanpa izin. Dua kapal tanker lainnya juga dipaksa berbalik arah.

Saat ini, sekitar 600 kapal sedang menunggu untuk melintasi selat tersebut, dan AS mengeklaim bahwa operasinya “akan membuka selat tersebut bagi semua pihak.” Beberapa media AS mengeklaim, dua kapal tanker “berhasil melintas.” Bahkan jika klaim ini dianggap benar, hal itu tidak mengubah kedaulatan Iran secara keseluruhan atas selat tersebut.

Berdasarkan perkembangan peristiwa selama dua bulan terakhir, tampaknya Selat Hormuz, sama seperti kekuatan rudal dan industri nuklir, telah ditetapkan sebagai salah satu komponen strategis dan vital Iran, yang manfaatnya tidak akan dilepaskan oleh Republik Islam Iran di bawah tekanan apa pun.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *