Erdogan: Saya Tidak Akan Meninggalkan Sharaa Sendirian
POROS PERLAWANAN – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menegaskan komitmennya untuk tidak meninggalkan Ahmed al-Sharaa sendirian dalam menghadapi tantangan di Suriah, seraya menyatakan bahwa persatuan dan stabilitas Suriah merupakan kepentingan langsung bagi Turki.
Dilaporkan oleh Al Mayadeen pada Senin 21 Juli, Erdogan secara terbuka menolak rencana pembagian wilayah Suriah, dan menyebut bahwa pemulihan penuh otoritas Damaskus akan menjadi kontribusi penting bagi stabilitas regional.
“Presiden Sharaa menunjukkan keteguhan dan ketegasan dalam menghadapi konfrontasi dengan Israel,” ujar Erdogan.
Erdogan memuji langkah strategis Sharaa yang menurutnya berhasil menjalin kesepahaman dengan komunitas Druze, yang selama ini menjadi titik krusial dalam dinamika konflik di selatan Suriah.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Suriah kini telah memulihkan kontrol atas sebagian besar wilayah Sweida dan sekitarnya, dengan pengerahan sekitar 2.500 pasukan nasional, setelah seluruh faksi Druze, kecuali satu, menyepakati gencatan senjata dalam perundingan yang difasilitasi di Ibu Kota Yordania, Amman.
“Sharaa tidak membuat konsesi, bahkan dalam tekanan ekstrem. Ia berdiri tegak dan memilih jalan konfrontasi terhadap pendudukan, bukan kompromi,” tambah Erdogan.
Israel Blokir Stabilitas, Gunakan Kekacauan sebagai Dalih
Erdogan secara gamblang menuduh entitas Zionis sebagai penghalang utama stabilitas Suriah. Ia menyatakan bahwa Israel aktif memprovokasi Kawasan dan tidak menginginkan Suriah yang bersatu dan kuat, karena hal itu akan bertentangan dengan kepentingan strategis Tel Aviv.
“Sangat penting bagi dunia untuk menyadari bahwa Israel sengaja mengacaukan proses stabilisasi Suriah demi memperluas kepentingannya,” tegas Erdogan.
Lebih lanjut, Erdogan memperingatkan bahwa Washington kini mulai menyadari urgensi untuk mengambil peran lebih konstruktif, namun tetap memperingatkan bahwa serangan-serangan Israel terus dilancarkan dengan dalih bentrokan lokal.
Zionis Serang Damaskus dan Sweida
Tentara Pendudukan Israel, pada Rabu lalu, meluncurkan sejumlah serangan udara yang menargetkan markas Staf Umum Angkatan Bersenjata Suriah di Damaskus, serta kendaraan-kendaraan militer di Sweida dan sekitarnya.
Beberapa jam setelah serangan tersebut, pesawat tempur Zionis kembali menggempur Suriah, menghantam wilayah-wilayah di pinggiran Damaskus, Daraa, dan Sweida, dalam rangkaian eskalasi terkoordinasi yang jelas bertujuan mengganggu proses rekonsiliasi nasional dan menghalangi pemulihan wilayah oleh Damaskus.
