Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Sikap Tegas Syekh Naim Qasim dan Gagalnya Agenda Washington di Lebanon

POROS PERLAWANAN — Pidato Syekh Naim Qasim baru-baru ini telah mengguncang pondasi politik Lebanon, dan lebih jauh lagi, strategi Amerika Serikat di Kawasan. Tegas, lugas, dan tanpa kompromi, pernyataannya membela senjata Hizbullah bukanlah retorika, melainkan sebuah pukulan telak terhadap ilusi bahwa Lebanon bisa dipaksa tunduk pada kehendak Washington.

Washington Terjebak dalam Permainan yang Diciptakannya Sendiri

Selama berbulan-bulan, AS dan Arab Saudi mengerahkan seluruh mesin diplomasi untuk menekan Beirut agar melucuti senjata Perlawanan. Janji keamanan, dukungan ekonomi, bahkan ancaman terselubung dijadikan alat tawar-menawar. Namun, pidato Syekh Qasim memaksa Pemerintah Lebanon untuk sadar: tunduk pada dokumen Amerika tanpa jaminan dari Israel hanya berarti bunuh diri politik.

Inilah yang kini membuat pejabat Lebanon terpojok. Mereka telah mengambil keputusan formal untuk melucuti Perlawanan, tetapi ternyata Perlawanan tetap bergeming. Alih-alih melemah, Hizbullah menunjukkan kesiapan melawan lebih jauh. Washington tidak menduga adanya konsolidasi internal, Nabih Berri berdiri penuh di belakang Hizbullah, dan bahkan tokoh-tokoh yang awalnya ragu kini harus mengakui bahwa kekuatan Perlawanan tidak bisa diremehkan.

Pemerintah Lebanon dalam Posisi Terhina

Ironi terbesar muncul justru dari pihak Israel. Setelah keputusan perlucutan diumumkan, bukan keamanan yang datang, melainkan agresi yang semakin brutal. Penambahan pasukan, kunjungan Kepala Staf Israel ke Wilayah Pendudukan, dan serangan berlanjut membuktikan satu hal: menyerahkan senjata Perlawanan tidak berarti menghentikan peluru. Pemerintah Lebanon kini harus menanggung malu di mata rakyatnya, mereka telah menunjukkan kelemahan, sementara musuh semakin berani.

Militer Menolak Jadi Alat Politik

Lebih memalukan lagi bagi Washington, Militer Lebanon tidak bersedia menjadi algojo politik. Jenderal Rudolf Heikal menegaskan bahwa Militer menunggu instruksi politik dan tidak mau mengambil langkah yang bisa memicu konflik internal. Dengan kata lain: tentara tidak akan menanggung risiko perang saudara demi melaksanakan agenda asing.

Retorika Washington Berubah, Bukti Kegagalan Tekanan

Pidato Syekh Qasim memaksa AS mengganti nada. Dari ancaman dan intimidasi selama berbulan-bulan, kini utusannya berbicara tentang “dukungan bagi Militer Lebanon” dan “perlunya keterlibatan Israel”. Ini bukan strategi baru, melainkan tanda kelemahan. Washington menyadari bahwa tanpa partisipasi Israel, tekanan mereka tidak menghasilkan apa-apa. Namun ironinya, pada akhirnya mereka tetap melempar beban ke Lebanon dengan dalih “isu senjata adalah masalah internal”.

Syekh Qasim Membalikkan Meja

Satu pidato bisa mengubah konstelasi politik, dan Syekh Naim Qasim membuktikannya. Ia tidak hanya memperkuat legitimasi Hizbullah, tetapi juga memperlihatkan rapuhnya strategi Pemerintah Lebanon yang terlalu bergantung pada janji kosong Washington. Kini, jelas bahwa siapa pun yang berusaha memaksakan pelucutan senjata tanpa jaminan keamanan nyata dari Israel hanya akan menjerumuskan Lebanon ke dalam kehancuran.

Seperti yang tampak hari ini, bukan Hizbullah yang goyah, melainkan Pemerintah Lebanon yang kebingungan, Militer yang enggan, dan Washington yang kehilangan arah.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *