Sindiran Oposisi Suriah kepada Jolani: Kenapa Kau Tidak Berikan Fatwa Pembebasan Quds?
POROS PERLAWANAN – Pada Jumat malam 7 November, seorang anggota Fraksi Nasional Suriah, yang diumumkan pada bulan lalu, secara keras mengkritik Pemerintah Abu Muhammad al-Jolani, pemimpin pemberontak yang menguasai Suriah.
Diberitakan Fars, Haitham Manna, yang merupakan oposisi terkemuka terhadap rezim Suriah sebelumnya, dalam wawancara dengan al-Mayadeen mengatakan, “Kami khawatir kelompok-kelompok ini (teroris al-Qaeda) akan berkuasa. Saat ini, 22.000 tentara Suriah dan mereka yang menyerahkan senjatanya pada akhir era Assad terkurung di penjara dalam kondisi yang mengerikan.”
“Secara militer, Damaskus telah jatuh ke tangan Israel. Setelah hancurnya kemampuan militer kami, kami tidak mampu mempertahankan Ibu Kota.”
Dalam kelanjutan agresi Zionis, sumber lokal Suriah melaporkan pada Rabu pekan ini bahwa sekelompok pasukan Israel, yang terdiri dari dua tank dan empat kendaraan militer, memasuki wilayah Jbata al-Khashab di pedesaan Quneitra pada Rabu dan mendirikan pos militer di jalan menuju desa Ain al-Bida.
Sejak jatuhnya Pemerintahan Bashar al-Assad dan berkuasanya pemimpin pemberontak Suriah, Abu Muhammad al-Jolani, Militer Israel telah berulang kali melanggar Perjanjian Penarikan Pasukan 1974.
Berdasarkan perjanjian tersebut, zona penyangga yang diawasi PBB didirikan antara Suriah dan wilayah Palestina. Namun Israel telah melanggar perjanjian ini sejak jatuhnya Pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember, dengan menduduki lebih banyak bagian-bagian lain dari wilayah Suriah.
Sejak saat itu, tentara rezim Israel telah melakukan sejumlah operasi militer di wilayah Suriah, termasuk serangan udara, operasi darat, penerbangan pengintaian, pembangunan penghalang militer, serta penahanan atau penculikan warga Suriah. Menanggapi serangan-serangan tersebut, al-Jolani mengatakan bahwa meskipun benar Israel menyerang wilayah Suriah, “kami tidak berniat untuk berperang dengan Israel.”
Manna kemudian membahas situasi ekonomi yang sangat buruk di bawah Pemerintahan al-Jolani, dengan mengatakan, “Kami telah mengantisipasi skenario terburuk, tetapi tidak sejauh ini. Saat ini, situasi ekonomi sudah tidak dapat ditoleransi lagi. 96 persen rakyat Suriah telah diklasifikasikan sebagai miskin.”
Dia dengan sarkastis menekankan ketundukan al-Joulani kepada Israel dan menambahkan,“Mereka (anasir al-Joulani) mengeluarkan fatwa untuk membunuh kami, tetapi mereka tidak mengeluarkan fatwa untuk membebaskan Quds. Ada yang siap memberikan segala kompromi untuk tetap berkuasa. Rekaman percakapan mereka dengan Israel telah terungkap.”
“Saya tidak bisa pergi ke Damaskus dan menyaksikan para pembunuh bertopeng ini berkuasa di sana. Suriah harus kembali ke rakyatnya, dan itu adalah impian saya. Kami layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang ada saat ini,” pungkas Manna.
