Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Trump dan Diplomasi Versi Imajinasi

Komedi Terbaru Trump: Berterima Kasih kepada Diri Sendiri dan Beri Nasihat Medis Tak Berdasar

POROS PERLAWANAN – Donald Trump kembali berbicara tentang Iran. Seperti biasa, ia berbicara dengan keyakinan penuh, dan seperti biasa pula, dengan kadar realitas yang dapat diperdebatkan. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Jumat 7 November, Trump mengeklaim bahwa Iran telah “meminta” agar sanksi Amerika Serikat dicabut, dan dengan kemurahan hati yang khas, ia menyatakan dirinya “terbuka” terhadap gagasan tersebut.

Klaim ini, sebagaimana banyak klaim serupa sebelumnya, tidak memiliki dasar yang dapat diverifikasi. Tidak ada catatan diplomatik, pernyataan resmi, atau sumber independen yang mengonfirmasi bahwa permintaan itu pernah terjadi. Namun, bagi Trump, detail semacam itu tampaknya hanya ornamen tambahan, sesuatu yang dapat diabaikan jika menghalangi narasi heroik tentang dirinya sebagai negosiator ulung.

Trump memiliki pola komunikasi yang konsisten: ia menciptakan versi kenyataan yang nyaman, menempatkan dirinya di pusatnya, dan berbicara dengan otoritas seolah setiap imajinasi adalah laporan situasi resmi. Dalam tahun-tahun terakhir, ia berulang kali mengaku telah menengahi perdamaian antara negara-negara yang bahkan tidak sedang berperang. Kamboja dan Thailand, Kosovo dan Serbia, hingga Israel dan Iran, semuanya disebut sebagai “keberhasilan diplomatik” yang, secara kebetulan, tidak pernah terdokumentasi di dunia nyata.

Ironisnya, pernyataan-pernyataan semacam itu tidak lagi mengejutkan. Dunia telah terbiasa dengan gaya retorika yang mengaburkan batas antara fakta dan fiksi. Setiap klaim besar segera diikuti dengan bantahan, bukan dari lawan politik, tetapi dari negara-negara yang disebutnya sendiri.

Trump pernah mengeklaim telah menandatangani lebih dari dua ratus perjanjian perdagangan, meskipun yang ada hanyalah surat ancaman tarif yang dikirim ke berbagai negara. Ia juga menyatakan bahwa India telah meminta Amerika Serikat menghentikan pembelian minyak Rusia dan menghapus tarif barang-barang Amerika, sebuah pernyataan yang segera dibantah oleh New Delhi.

Dalam semua ini, terdapat pola yang menarik: Trump tampaknya tidak berupaya menyesuaikan ucapannya dengan kenyataan, melainkan berupaya membuat kenyataan menyesuaikan diri dengan ucapannya. Politik luar negeri, dalam pandangan Trump, bukanlah seni diplomasi, melainkan seni pementasan, di mana persepsi lebih penting daripada hasil, dan klaim pribadi lebih bernilai daripada fakta.

Pernyataannya tentang Iran, karenanya, bukanlah berita baru, melainkan pengulangan tema lama: upaya konstan untuk mengukuhkan citra diri sebagai pemimpin global yang diinginkan, terlepas dari apakah dunia mengakuinya atau tidak.

Pada akhirnya, Trump mungkin tidak sedang berbicara kepada Iran, ia berbicara kepada cermin.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *