Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Situasi Terkini Bentrokan di Sweida, Suriah

POROS PERLAWANAN – Situasi di provinsi Sweida masih memanas seiring pelanggaran gencatan senjata yang diumumkan baru-baru ini. Bentrokan antara kelompok bersenjata dan penduduk lokal, terutama dari komunitas Druze, terus berlanjut, memicu kekhawatiran besar di tengah warga sipil.

Menurut laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia pada Sabtu malam 19 Juli, setidaknya 940 orang tewas dalam tujuh hari terakhir akibat bentrokan, eksekusi di gurun, serta serangan udara Israel. Sebagian besar korban adalah warga sipil tak berdosa yang terjebak dalam kekacauan.

Observatorium menyebutkan bahwa perjanjian gencatan senjata yang dicapai dengan pengawasan internasional telah dilanggar, setelah pecahnya kembali bentrokan di wilayah barat kota Sweida. Konflik terjadi antara kelompok bersenjata eksternal dan para pejuang lokal Druze yang mempertahankan wilayah mereka.

Salah satu klausul utama perjanjian tersebut mencakup pembentukan pos-pos pemeriksaan oleh Pasukan Keamanan Publik, yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri Suriah, di luar batas administratif provinsi Sweida. Tujuannya adalah mencegah infiltrasi kelompok bersenjata asing. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

Kelompok-kelompok bersenjata yang berasal dari luar Sweida didukung oleh Pasukan Keamanan Al-Jolani meluncurkan serangan terkoordinasi dari berbagai arah. Dukungan ini membuka jalan bagi agresi mereka ke dalam wilayah kota. Bentrokan sengit dilaporkan terjadi di kawasan Al-Thawra, Al-Masakin, serta wilayah barat dan utara Sweida, dengan kelompok-kelompok lokal berjuang keras menahan gempuran.

Situasi semakin memburuk dengan merebaknya tindakan pembalasan, pembunuhan, dan aksi intimidasi yang brutal.

Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Rami Abdel Rahman mengungkapkan bukti kejahatan yang dilakukan kelompok berafiliasi dengan al-Jolani, termasuk rekaman video yang menunjukkan tiga pemuda dipaksa melompat dari balkon.

Lebih jauh, beredar gambar sekelompok individu bersenjata yang terang-terangan menyatakan tidak mengakui perjanjian gencatan senjata. Salah satu pemimpin mereka, yang berafiliasi dengan Pemerintahan Al-Jolani, menegaskan bahwa mereka akan terus menduduki desa-desa Druze yang telah mereka kuasai.

Perkembangan ini menunjukkan retaknya kendali Pemerintahan Al-Jolani atas dinamika lapangan. Setiap faksi bersenjata kini bergerak dengan agenda mereka masing-masing, memperdalam krisis dan penderitaan rakyat Suriah.

Di tengah kekacauan ini, yang paling diuntungkan bukanlah rakyat atau bangsa mana pun, melainkan entitas Zionis yang terus menangguk laba dari konflik dan fragmentasi internal Suriah.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *