Skandal Memalukan Universitas-unversitas AS: Jual Jasad Hibah untuk Pelatihan Militer Israel
POROS PERLAWANAN – Mayat-mayat yang telah disumbangkan kepada universitas-universitas Amerika oleh warga negara untuk “penelitian medis dan ilmiah” justru diserahkan kepada Militer Israel untuk keperluan pelatihan.
Diberitakan Fars, media-media Amerika melaporkan, dua universitas ternama di California telah menyerahkan mayat-mayat yang disumbangkan oleh warga negara tersebut kepada Militer Rezim Zionis untuk keperluan pelatihan.
Media mahasiswa “Anberk Media” dan “USCD Guardian”, melalui investigasi bersama mengungkapkan, dua universitas terkemuka di Amerika, yaitu University of Southern California (USC) dan University of California, San Diego (UCSD), telah melakukan tindakan memalukan tersebut.
Pengungkapan ini telah memicu gelombang kekhawatiran etis dan memicu protes keras dari keluarga yang berduka, yang menganggap tindakan tersebut sebagai “pelanggaran kepercayaan.”
Para keluarga yang berduka mengatakan, mereka tidak pernah diberi tahu bahwa jenazah orang yang mereka cintai akan digunakan untuk keperluan militer.
Investigasi ini mengungkapkan bahwa jenazah yang disumbangkan ke kedua universitas tersebut untuk “penelitian medis” telah dijual kepada Angkatan Laut AS untuk simulasi perang.
Universitas Southern California telah meraup lebih dari $1 juta dari kontrak-kontrak ini dalam satu dekade terakhir. Proses ini melibatkan pemindahan jenazah dengan “jaringan hidup yang masih segar” dari USC Dornsife ke fasilitas yang dikelola USC di Pusat Pelatihan Trauma Angkatan Laut di Los Angeles General Medical Centre.
Meskipun universitas-universitas tersebut menggambarkan program ini sebagai “kursus pelatihan medis untuk menyelamatkan nyawa,” dokumen internal menunjukkan bahwa sesi-sesi tersebut menggunakan mayat yang “diperfusi”; artinya, mayat yang disuntikkan darah buatan untuk mensimulasikan luka-luka medan perang yang realistis.
Pelatihan tersebut mencakup cara menangani luka akibat tembakan senjata api dan bom pinggir jalan (IED).
Antara tahun 2024 dan 2025, Militer Israel telah menggunakan 12 dari 36 jenazah yang disediakan berdasarkan kontrak tersebut.
Brittany Becher, yang jenazah saudaranya Jamie disumbangkan ke UCSD, mengatakan,”Saya sangat terpukul melihat posisi yang begitu rentan disalahgunakan. Jika saya tahu, saya tidak akan pernah setuju.”
Sarah Pena, yang neneknya, Janet Woolpin, telah mendonasikan jenazahnya ke University of Southern California, menggambarkan penggunaan jenazah untuk pelatihan militer sebagai “pengkhianatan”.
“Saya yakin dia sama sekali tidak akan senang dengan hal ini,” kata Pena, sambil menambahkan bahwa neneknya mendukung pembentukan negara Palestina yang merdeka dan menentang perang.
Meskipun ada protes luas dan seruan untuk penyelidikan independen, Angkatan Laut AS baru-baru ini mengajukan rancangan rencana untuk memperpanjang program tersebut hingga tahun 2029.
Lembaga tersebut juga memperbarui kontrak bernilai jutaan dolar dengan Universitas Southern California untuk memasok jenazah manusia guna pelatihan personel medis Militer Israel.
