Sorot Hubungan Saudi-Tel Aviv, Al-Houthi Sebut Pertempuran dengan Israel ‘Tak Terhindarkan’
POROS PERLAWANAN — Pemimpin Gerakan Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Al-Houthi menegaskan bahwa konfrontasi di masa depan dengan Israel merupakan keniscayaan. Amerika Serikat, Rezim Zionis, dan sekutu-sekutunya dinilai tengah memaksakan proyek dominasi Kawasan yang dirancang untuk menguasai Timur Tengah secara menyeluruh demi kepentingan strategis mereka.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato memperingati datangnya bulan suci Rajab pada Jumat 26 Desember. Dalam pidato itu, Al-Houthi menyoroti agenda yang disebut sebagai proyek “mengubah Timur Tengah”, yang menurutnya mencakup perluasan pengaruh Israel dan upaya melegitimasi konsep “Israel Raya” melalui tekanan politik, militer, dan ekonomi.
Al-Houthi juga mengkritik peran media dan arus pemikiran yang digunakan Barat sebagai sarana penetrasi budaya dan intelektual. Pola tersebut dinilai berbahaya karena membentuk opini publik, terutama generasi muda, agar menerima dominasi asing sebagai keniscayaan politik.
Situasi di Palestina digambarkan sebagai bukti nyata dari proyek tersebut. Kekerasan harian, pembunuhan warga sipil, penangkapan massal, penyiksaan tahanan, penghancuran rumah, penodaan Masjid Al-Aqsa, serta pengungsian paksa di Tepi Barat dan Jalur Gaza disebut terus berlangsung dengan dukungan langsung Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Selain kekerasan fisik, Israel dituduh melakukan penjarahan sistematis atas kekayaan Palestina, termasuk gas alam dan sumber daya air. Praktik ini, menurut Al-Houthi, tidak mungkin berlangsung tanpa keterlibatan atau pembiaran sejumlah Rezim Arab yang justru membeli sumber daya hasil perampasan tersebut.
Dalam konteks regional, Al-Houthi secara terbuka menyatakan adanya hubungan antara Rezim Saudi dan Rezim Israel. Ia menilai normalisasi terselubung semacam itu sebagai bentuk penyerahan politik yang merusak martabat bangsa-bangsa Arab dan menguntungkan proyek dominasi Zionis.
Israel juga disebut terus melanggar perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza dengan memblokade masuknya makanan dan obat-obatan, sementara pada saat yang sama menerima aliran dana miliaran Dolar secara tidak langsung melalui hubungan dengan Amerika Serikat.
Al-Houthi turut menyinggung kebijakan Amerika Serikat di Venezuela sebagai contoh pola dominasi global Washington. Penjarahan minyak dan penggunaan dalih perang melawan narkoba disebut sebagai strategi klasik untuk menguasai negara dengan cadangan energi strategis.
Terkait Suriah, kelompok-kelompok yang menguasai sebagian wilayah negara itu dinilai tidak pernah menghadapi Israel secara langsung. Senjata mereka lebih banyak digunakan dalam konflik internal, sementara upaya normalisasi dengan Tel Aviv terus mengemuka.
Pidato tersebut ditutup dengan penegasan bahwa pertempuran dengan Israel bersifat pasti dan tidak dapat dihindari. Kesiapsiagaan, peningkatan kesadaran politik, serta mobilisasi berkelanjutan dipandang sebagai keharusan menghadapi fase lanjutan dari proyek dominasi regional yang sedang berlangsung.
