Syahid Raisi dan Keffiyeh Palestina: Antara Solidaritas dan Prinsip Negara
POROS PERLAWANAN – Presiden berdiri di belakang podium, bersiap merekam pesannya. Saya senang dengan inisiatif ini; semuanya sudah siap untuk dimulai. Namun, tiba-tiba beliau berkata:
“Kita di sini untuk Palestina, dan sikap kita terhadap negara ini sudah jelas. Tapi keffiyeh ini ada bendera Palestinanya…”
Demikian catatan Muhammad Mahdi Rahimi, mantan Direktur Jenderal Humas Kantor Kepresidenan di masa Syahid Raisi, yang ditulis di akun pribadinya pada Sabtu (29/3):
“Selama beberapa tahun terakhir, para pemimpin dan komandan Poros Perlawanan (Axis of Resistance) telah merekam pesan dengan tema dan slogan seragam menjelang Yaumul Quds, yang kemudian disiarkan serempak oleh media-media aliran perlawanan. Pada tahun 2023, pihak penyelenggara meminta Presiden Republik Islam Iran untuk mewakili negara dalam menyampaikan pidato dan pandangannya. Usulan ini menimbulkan pro dan kontra, tetapi akhirnya Ayatullah Raisi memutuskan untuk merekam pesan tersebut.”
Keikutsertaan Presiden Iran bersama Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Pemimpin Ansarullah Yaman, Kepala Kantor Politik Hamas, dan pemimpin Syiah Bahrain dalam satu frame yang sama menjadi bukti lain dari pendekatan kebijakan luar negeri pemerintah Iran yang baru; sekaligus pesan tegas bagi Zionis dan pendukung mereka. Peristiwa ini mendapat sorotan luas dari media regional dan internasional.
Tahun berikutnya, pada 2024, permintaan serupa diajukan kembali, kali ini tanpa penolakan. Pada hari perekaman, saya membawa keffiyeh Palestina yang spesial—hadiah dari salah satu pemimpin Hamas di Gaza beberapa tahun lalu—dari rumah ke kantor agar Presiden mengenakannya saat rekaman. Keffiyeh itu berkualitas tinggi, dengan bendera Palestina tertera di bagian bawahnya.
Ketika Syahid Raisi tiba, saya meminta izin untuk meletakkan keffiyeh itu di pundaknya, lalu merapikannya. Presiden kemudian berdiri di belakang podium, siap untuk merekam. Saya bangga dengan ide ini; semuanya sudah siap. Namun, tiba-tiba beliau berkata:
“Kita di sini untuk Palestina, dan sikap kita terhadap negara ini jelas. Tapi keffiyeh ini ada bendera Palestinanya. Sebagai Presiden Iran, tidak tepat bagiku menggunakan simbol negara lain.”
Beliau pun melepasnya, lalu menambahkan:
“Bawakan keffiyeh Palestina yang pernah kugunakan sebelumnya—seperti saat KTT Negara-Negara Islam di Arab Saudi—agar kita tetap menunjukkan dukungan kepada perlawanan Palestina, sekaligus menghindari kesan menggunakan lambang negara asing.”
Para staf segera pergi ke gedung sebelah untuk mengambil keffiyeh yang dimaksud. Dengan rendah hati, Ayatullah Raisi tetap berdiri di belakang podium agar set rekaman tidak berantakan. Kami memohon agar beliau duduk sejenak sambil menunggu, dan beliau pun memanfaatkan waktu itu untuk mengadakan rapat singkat dengan salah satu pejabat di sana.
Ketelitian dan kepekaan Ayatullah Raisi terhadap detail-detail yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah pelajaran berharga yang saya dapatkan berkali-kali selama masa kepresidenannya.
(Catatan: “Keffiyeh” adalah syal tradisional Palestina yang menjadi simbol perlawanan. Kisah ini menggambarkan sikap Presiden Raisi yang sangat menghormati kedaulatan Iran sekaligus tetap mendukung Palestina dengan cara yang tepat.)
