Syekh Naim Qasim: Negosiasi Langsung dengan Israel yang Merendahkan Lebanon Harus Dihentikan
POROS PERLAWANAN – Mengutip laporan Al Mayadeen pada Jumat 5 Juni, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Syekh Naim Qasim menyerukan penghentian apa yang disebutnya sebagai “negosiasi langsung dengan Israel yang merendahkan martabat Lebanon”. Ia menegaskan bahwa perlawanan akan terus berlanjut selama serangan dan pendudukan Israel masih berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan Syekh Naim dalam pesan memperingati tahun ke-37 wafatnya Imam Khomeini, yang juga memuat pandangannya mengenai perkembangan politik dan keamanan di Lebanon.
Menurut Syekh Naim, setiap kesepakatan yang menjadikan pelucutan senjata Kelompok Perlawanan sebagai tujuan utama, akan melemahkan kemampuan Lebanon dalam menghadapi ancaman eksternal dan berpotensi membahayakan kedaulatan negara tersebut.
Ia mengkritik hasil perundingan yang menghasilkan apa yang disebutnya sebagai “Pernyataan Washington”, yang menurutnya membuka jalan bagi tekanan politik terhadap Lebanon dan berupaya mencapai tujuan melalui jalur diplomasi, apa yang tidak berhasil dicapai Israel melalui konfrontasi militer.
Syekh Naim menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan menerima pengaturan apa pun yang mengaitkan penghentian perlawanan dengan keberlanjutan serangan Militer Israel.
“Kami tidak pernah berjanji kepada siapa pun bahwa kami tidak akan melawan atau menanggapi agresi. Selama agresi terus berlangsung, kami akan menghadapinya dengan seluruh kemampuan yang kami miliki,” kata Syekh Naim Qasim.
Ia menambahkan bahwa prioritas utama saat ini adalah penghentian penuh serangan Israel, penerapan gencatan senjata yang menyeluruh, serta penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang masih diduduki.
Menurut Sekjen Hizbullah, gencatan senjata harus berlaku untuk seluruh wilayah Lebanon tanpa pengecualian dan tidak boleh memberikan ruang bagi Israel untuk melanjutkan operasi militer di bagian mana pun dari negara tersebut.
Syekh Naim juga menegaskan bahwa keberadaan Perlawanan tidak boleh dijadikan syarat dalam pembahasan penghentian agresi maupun penarikan pasukan Israel. Ia menyatakan bahwa kedaulatan Lebanon hanya dapat diwujudkan melalui berakhirnya serangan dan pendudukan.
Sekretaris Jenderal Hizbullah itu turut menyerukan penguatan persatuan nasional di tengah meningkatnya tekanan eksternal terhadap Lebanon. Menurutnya, Pemerintah Lebanon memiliki tanggung jawab untuk memperkuat dialog internal dan membangun kesepahaman nasional dalam menghadapi tantangan keamanan yang dihadapi negara tersebut.
Syekh Naim juga meminta para pejabat Lebanon menghentikan proses yang disebutnya sebagai “negosiasi langsung dengan Israel” dan lebih memprioritaskan penguatan posisi negara yang berdaulat serta memperoleh dukungan seluruh komponen masyarakat Lebanon.
Dalam bagian lain pidatonya, Syekh Naim menyinggung hubungan Hizbullah dengan Iran. Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Teheran kepada Lebanon dan Kelompok-kelompok Perlawanan, termasuk dalam upaya mendorong penghentian serangan serta mewujudkan gencatan senjata yang menyeluruh.
Selain membahas situasi Lebanon, Syekh Naim Qasim juga mengenang peran Imam Khomeini dalam Revolusi Islam Iran. Menurutnya, Revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi berbagai Gerakan Perlawanan di Kawasan dan berkontribusi dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina serta kelompok-kelompok yang menentang pendudukan Israel.
Pernyataan Sekjen Hizbullah itu disampaikan di tengah berlanjutnya ketegangan antara Israel dan Kelompok-kelompok Perlawanan di Kawasan, serta meningkatnya upaya diplomatik untuk mendorong penghentian konflik dan terciptanya stabilitas regional.
