Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Teheran Bukan Tripoli, Republik Islam Siap Kubur Skenario Hina Amerika

POROS PERLAWANAN – Republik Islam Iran dengan tegas menolak skenario “Libyanisasi” yang coba dipaksakan oleh Amerika dan Israel. Permintaan pembongkaran total fasilitas nuklir Iran, seperti yang dilakukan Muammar Gaddafi sebelum negaranya dibombardir dan dijadikan reruntuhan oleh NATO, ditanggapi Menteri Luar Negeri Iran dengan tawa dingin: “Amerika hanya bisa bermimpi.”

Memang begitulah: mimpi adalah satu-satunya tempat di mana AS dan Israel bisa membayangkan Iran menyerah. Sebab Iran bukanlah boneka buatan CIA, bukan monarki pipa minyak, dan bukan Republik tipuan yang bisa dibeli dengan Dolar atau diintimidasi oleh armada kapal induk.

Iran: Anak Zaman, Pewaris Peradaban, dan Musuh Alami Imperialisme

Negara ini lahir bukan dari lelang kolonial, tapi dari bara Revolusi. Akarnya menjulang dalam sejarah Kekaisaran Persia, ketika Amerika bahkan belum lahir sebagai wacana. Iran bukan hanya sebuah negara; ia adalah peradaban yang bertahan dari Aleksander, Mongol, Ottoman, dan kini Washington.

Di bawah embargo dan sanksi, Iran tidak melemah, ia kian mengeras. Teknologi nuklirnya bukan sekadar alat tawar, tapi simbol martabat. Rudal-rudalnya bukan provokasi, tapi peringatan: “Kami bisa membalas jika kalian menyerang.”

AS-Israel: Duo Penjajah yang Gagal Paham

Washington, dengan perilaku kolonialismenya yang tak berubah sejak Vietnam hingga Gaza, terus menganggap dunia sebagai papan catur. Namun, kali ini mereka keliru. Iran bukan pion yang bisa disingkirkan, melainkan lawan main yang tahu kapan melangkah dan kapan memukul balik.

Sementara Israel, negara apartheid yang berselimut senjata nuklir ilegal dan kebijakan pemusnahan etnis di Gaza, mungkin lupa bahwa bermain api dengan Iran berarti menyulut bom waktu. Jika Teheran diganggu, maka Tel Aviv takkan aman. Iran tak pernah memulai perang, tapi ia akan mengakhirinya dengan cara yang membuat musuhnya takkan pernah lupa.

Iran, Pilar Dunia Multipolar

Ketika AS mencoba memonopoli dunia melalui kekuatan militer dan propaganda media, Iran justru menjadi contoh kedaulatan sejati. Negara ini berdiri bersama rakyatnya, bersama Palestina, bersama semua yang diinjak oleh sepatu bot kolonial. Di Timur Tengah baru, Iran bukan sekadar pemain; ia adalah fondasi bagi dunia multipolar yang sedang tumbuh, dunia yang bebas dari hegemoni Barat.

Itulah sebabnya, jika Barat memaksa jalan perang, maka Iran tak akan sendirian. Rusia, China, dan Gerakan Poros Perlawanan global menyadari: jatuhnya Iran berarti terbukanya jalan bagi penjajahan model baru. Ini berarti bahwa setiap serangan terhadap Teheran adalah serangan terhadap dunia yang bermartabat.

Dunia Baru Tak Akan Ditulis Oleh Penjajah

Sanksi, embargo dan blokade, semua itu gagal. Apa yang tidak dihancurkan oleh bom, justru ditempa oleh tekanan. Iran tidak melemah; ia tumbuh menjadi hantu menakutkan bagi semua penguasa yang biasa menekan negeri-negeri lemah.

Amerika dan Israel, mabuk dengan superioritas palsu, telah menulis banyak naskah jatuhnya negara lain. Namun, naskah akhir untuk Iran tidak akan ditulis di Pentagon atau Knesset, melainkan di jalan-jalan Qom, Teheran, dan Gaza, oleh tangan-tangan Perlawanan. []

Redaksi POROS PERLAWANAN

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *