The Nation: Trump, Pria Narsisis 80 Tahun yang Tak Sanggup Akui dan Terima Kekalahan dalam Perang Melawan Iran
POROS PERLAWANAN — Majalah Amerika Serikat, The Nation menilai Presiden Donald Trump belum mampu menerima kegagalan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. Dalam laporannya, media tersebut menyebut konflik yang mahal dan destruktif itu kembali berlanjut karena Trump dinilai tidak bersedia mengakui kekalahan.
Dilansir Fars News pada Minggu 19 Juli, The Nation dalam artikel berjudul “Trump Can’t Accept That He Lost the War with Iran” menulis bahwa perang kembali berlanjut “karena seorang narsisis berusia 80 tahun tidak mampu menghadapi kenyataan”.
Menurut laporan tersebut, hampir lima bulan sejak dimulainya perang yang disebut sebagai “perang pilihan” Amerika Serikat terhadap Iran, Washington dinilai belum mendekati satu pun tujuan strategisnya. Media itu bahkan menyebut Trump secara efektif telah melakukan langkah “mundur strategis” ketika menyetujui nota kesepahaman pada 17 Juni.
The Nation kemudian menyoroti berbagai kegagalan Amerika Serikat di medan perang, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian global. Menurut media itu, Trump lebih memilih mempertahankan konflik daripada mengakui kesalahan, meskipun konsekuensinya memperburuk ekonomi dunia dan merugikan kepentingan politiknya sendiri.
Laporan tersebut juga menyebut posisi politik Trump semakin melemah, meski kecil kemungkinan ia akan lengser sebelum masa jabatannya berakhir. Menurut The Nation, Trump kini tampak sebagai sosok yang semakin kehilangan pengaruh.
Media itu menilai Trump terbiasa mengakhiri persoalan sesuai kehendaknya sendiri, sehingga perang melawan Iran menjadi persoalan yang sulit diterimanya. Di sisi lain, Pemerintahan Iran tetap bertahan dan tidak menunjukkan tanda-tanda bakal mengikuti tuntutan Washington.
The Nation juga mengkritik keputusan Trump yang dinilai membatalkan arah penyelesaian diplomatik dengan kembali melancarkan serangan terhadap Iran, meskipun sebelumnya telah menyepakati nota kesepahaman yang ditandatangani di Versailles.
Menurut laporan tersebut, Trump terus berpindah dari satu manuver politik ke manuver lainnya untuk menghindari konsekuensi dari kegagalannya sendiri.
The Nation juga menyoroti dampak ekonomi dari kebijakan tersebut. Menurut media itu, ancaman baru terhadap Iran kembali mendorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar, sementara Amerika Serikat terus menghabiskan ratusan juta Dolar setiap hari untuk operasi militer tanpa berhasil memaksa Iran mengubah kebijakannya ataupun kembali ke meja perundingan.
Laporan itu menyebut sempat muncul harapan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani Trump akan membuka jalan menuju berakhirnya konflik. Namun, menurut The Nation, harapan tersebut pupus setelah Pemerintahan Trump kembali meningkatkan eskalasi. Media itu menilai kondisi tersebut kembali memicu tekanan terhadap pasar energi global sekaligus berpotensi merugikan Partai Republik menjelang Pemilu sela Kongres.
Di akhir laporannya, The Nation menyarankan agar Trump kembali mematuhi nota kesepahaman yang telah ditandatanganinya. Jika tidak, media itu menilai Pemerintahan Trump akan terus terjebak dalam upaya yang dinilai gagal untuk mencapai tujuannya dalam perang melawan Iran, sementara waktu menuju Pemilu sela Kongres semakin singkat.
