Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Tolak Didikte Jauhi Hizbullah, Mantan Menlu Lebanon Tegaskan Dirinya Bukan Antek dan Sekutu AS

POROS PERLAWANAN – Gebran Bassil, mantan Menlu Lebanon dan Pemimpin Gerakan Patriotik Bebas (FPM), berkomentar soal sanksi-sanksi yang diberlakukan Washington atas dirinya.

Dikutip Fars dari al-Mayadeen, Bassil menyebut kesepakatan Hizbullah dengan FPM sebagai faktor terpenting kemenangan dalam Perang 2006. Ia mengatakan, ”Saya menolak disebutnya Hizbullah sebagai teroris oleh Mike Pompeo, juga saran untuk meninggalkan Hizbullah, karena itu akan memicu kekacauan.”

Sembari menyatakan bahwa AS berupaya menyulut kekacauan di Lebanon, Bassil mengaku dirinya telah diperingatkan soal pencabutan kekebalan diplomatiknya. Ia juga mengaku mendapat bujukan dan ancaman untuk menerima syarat-syarat dari AS.

“Saya katakan kepada pihak-pihak terkait bahwa Lebanon tidak menerima kebijakan-kebijakan yang didiktekan, karena negara bisa saja runtuh. Pihak-pihak ini selalu mengaitkan tiap pertemuan atau sikap terhadap Hizbullah dengan AS dan sanksi-sanksinya,” papar Bassil.

Menurutnya, orang-orang AS bahkan tidak pernah bicara satu kali pun dengannya soal korupsi. Ia menambahkan, ”Berkali-kali saya minta bantuan dari pejabat AS dan internasional untuk melawan korupsi serta mengembalikan aset. Namun mereka tidak memberi jawaban.”

Ia mengatakan, baru-baru ini seorang pejabat AS menghubungi Presiden Lebanon, Michael Aoun dan meminta agar Pemerintah memutus hubungan dengan Hizbullah.

“Saya menentang tuntutan-tuntutan AS, sebab itu berlawanan dengan prinsip FPM, yang menolak dikte-dikte asing. Saya katakan kepada AS, bahwa saya bukan antek kalian dan tak ingin menjadi teman kalian.”

“AS memberi saya kesempatan selama 4 bulan untuk terhindar dari sanksi. Mereka lalu menambahkan 24 jam lagi. Namun saya tetap menolak, hingga akhirnya mereka menjatuhkan sanksi,” tandasnya.

“Orang-orang AS tidak pernah bicara dengan saya, kecuali tentang Hizbullah. Saya memberitahukan perkembangan kepada Sayyid Hasan Nasrullah. Dia pun menjelaskan pemahamannya dari sikap yang diambilnya,” lanjut Bassil.

Ia menyebut Israel sebagai sumber sanksi-sanksi dan mengatakan, Rezim Zionis berkepentingan untuk menyudutkan kelompok Kristen Lebanon dan menelantarkan mereka.

“AS harus tahu, sanksi-sanksi tidak akan melemahkan Hizbullah; Hizbullah yang bisa membela dirinya sendiri. Kita tidak bisa menyudutkan Hizbullah dengan alasan apa pun. Kita mesti bertindak atas dasar penghormatan timbal balik. Andai kami ingin melepaskan kesepakatan dengan Hizbullah, pasti alasannya bersifat internal, bukan eksternal.”

“Meski kami memiliki sejumlah perselisihan dengan Hizbullah, Iran tidak pernah menjatuhkan sanksi kepada kami. Iran dan Hizbullah menghormati kami,” pungkas Bassil.

Tags: