Trump Klaim Tentara Kuba Tewas dalam Operasi Militer AS di Venezuela
POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeklaim bahwa sejumlah tentara Kuba tewas selama operasi militer Amerika Serikat di Venezuela. Klaim tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan jaringan televisi MSNBC pada Selasa 6 Januari.
Mengutip Russia Today, Trump menyebut operasi militer di Venezuela sebagai bukti kekuatan superior Militer Amerika Serikat. Ia juga membandingkan operasi tersebut dengan invasi AS ke Irak, dengan menyatakan bahwa Washington kini akan “mempertahankan minyak”, sesuatu yang menurutnya tidak dilakukan pemerintahan sebelumnya.
“Banyak tentara Kuba tewas selama invasi kami ke Venezuela. Operasi ini membuktikan bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan Militer yang sangat tinggi di medan perang,” ujar Trump dalam wawancara tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyatakan optimisme tinggi terhadap pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Ia mengeklaim akan meraih kemenangan besar dalam Pemilu tersebut.
Trump kemudian menggambarkan jalannya operasi militer di Venezuela, termasuk pemadaman listrik secara luas yang disebutnya terjadi sebelum pasukan Amerika bergerak. Ia mengeklaim tidak ada korban jiwa di pihak Amerika Serikat, sementara banyak korban jatuh di pihak Venezuela. Trump juga menyebut operasi itu melibatkan sekitar 152 pesawat serta pasukan darat dalam jumlah besar.
Presiden AS itu juga kembali menegaskan kebijakan peningkatan produksi persenjataan. Menurutnya, Amerika Serikat harus memproduksi senjata lebih cepat dan lebih banyak, seraya menyebut Militer AS sebagai yang “paling mematikan” di dunia.
Selain itu, Trump kembali melontarkan tuduhan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang ia sebut sebagai pemimpin kejam. Trump mengeklaim bahwa Pemerintah Maduro bertanggung jawab atas kematian jutaan orang dan menuduh adanya fasilitas penyiksaan di Caracas, meskipun tidak menyertakan bukti atas pernyataan tersebut.
Pernyataan-pernyataan Trump tersebut menuai perhatian luas di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap operasi militer Amerika Serikat di Venezuela serta belum adanya konfirmasi independen atas klaim korban dan skala operasi yang disampaikan Gedung Putih.
