Trump Lepas Topeng Diplomasi: Tujuan Kami Bongkar Total Program Nuklir Iran
POROS PERLAWANAN – Seratus hari sudah berlalu sejak Donald Trump kembali menduduki Ruang Oval, namun alih-alih membuka “jendela diplomasi”, ia justru menyulut ulang badai permusuhan terhadap Republik Islam Iran. Dalam sebuah wawancara terbaru pada 4 Mei 2025 dengan Kristen Welker di acara “Meet the Press” NBC, Trump menegaskan bahwa satu-satunya tujuan dari negosiasi dengan Iran adalah “membongkar sepenuhnya program nuklirnya”. Pernyataan ini bukan hanya menyingkap watak asli kebijakan luar negeri AS yang imperialis dan arogan, tetapi juga membenarkan peringatan tajam dari surat kabar Kayhan sebelumnya: Amerika tidak pernah benar-benar menginginkan kesepakatan.
Dengan nada pongah dan retorika koboi khasnya, Trump berkata bahwa ia “mungkin akan mengizinkan” Iran menggunakan energi nuklir sipil; jika Iran sepenuhnya menghentikan program senjata nuklirnya. Pernyataan itu sendiri adalah ironi memalukan, karena Badan-badan Pengawas Internasional, termasuk IAEA, telah berulang kali menegaskan bahwa tidak ada bukti program senjata nuklir aktif di Iran. Justru, siapa yang pertama kali menggunakan bom atom? Siapa yang menyimpan ribuan hulu ledak nuklir tanpa pengawasan? Jawabannya bukan Iran, melainkan Amerika Serikat sendiri.
Trump lalu menambahkan: “Energi sipil sering berakhir dalam perang militer.” Kalimat ini menunjukkan kedangkalan wawasan dan sikap paranoid khas kaum imperialis yang memproyeksikan niat jahat mereka ke bangsa lain. Bagi Washington, kemajuan teknologi negara-negara Muslim dan Dunia Selatan selalu dianggap ancaman. Karena dalam dunia hegemon, kemandirian adalah bentuk pemberontakan.
Ironi berikutnya: Trump bicara soal negosiasi sambil mengintensifkan perang ekonomi. Dalam 100 hari masa jabatannya, ia telah menjatuhkan 182 sanksi baru terhadap Iran, artinya satu sanksi baru setiap 13 jam! Ini bukan diplomasi. Ini perang dalam balutan jas dan dasi. Ini bukan tawaran damai, melainkan jerat kolonial dalam bentuk lain. Tidak ada orang waras yang akan mempercayai ucapan damai dari tangan yang sama yang menekan tombol sanksi.
Trump kini mengandalkan Marco Rubio sebagai Menteri Luar Negeri sekaligus Penasihat Kebijakan Luar Negeri utamanya. Seorang loyalis yang mengikuti semua arah angin Trump, dari Ukraina hingga Gaza, dari Iran hingga China. Rubio, dalam baris kebijakannya, menyuarakan hal senada: “Hamas harus diberantas.” Ia mendukung proyek neo-kolonial Trump untuk membangun kembali Gaza, tentu saja setelah penghancuran massal oleh Israel selesai. Dia pula yang mendukung visi Trump untuk menjinakkan Iran bukan dengan dialog setara, melainkan melalui tekanan, ancaman, dan, jika perlu perang.
Sementara itu, pemecatan Mike Waltz sebagai Penasihat Keamanan Nasional, yang dikonfirmasi oleh Washington Post dan media Zionis Yedioth Ahronoth, membuka borok hubungan rahasia Gedung Putih dengan Tel Aviv. Waltz, tokoh ultra-hawkish, diberhentikan setelah ketahuan intens berkoordinasi dengan Netanyahu untuk mempersiapkan opsi militer terhadap Iran. Ini bukan spekulasi. Ini fakta dari jurnalisme arus utama mereka sendiri. Artinya: rezim AS tak hanya berbicara tentang diplomasi, tetapi telah, dan sedang, merancang perang dari balik layar.
Trump bicara “damai”, tetapi menggelar sanksi. Ia bicara “dialog”, tetapi menyiapkan senjata. Ia ingin mengajak Iran ke meja perundingan dengan leher terikat tali embargo, tangan terborgol retorika fitnah, dan hak-hak kedaulatan dibarter demi “pengakuan” dari imperium yang senja.
Bangsa yang Tidak Akan Tunduk
Tuan Trump, izinkan kami mengingatkan Anda: Iran bukan negeri jajahan. Ini adalah bangsa dengan sejarah ribuan tahun, yang telah menggulingkan Shah boneka Anda dan menantang embargo Anda selama empat dekade. Anda bisa menawarkan senyuman palsu, tetapi kami mengenal wajah serigala di baliknya. Anda bisa berbicara tentang kesepakatan, tetapi selama tangan Anda masih menekan leher rakyat Iran, tidak akan ada meja dialog yang kokoh.
Bangsa Iran hanya akan berbicara dalam bahasa logika, bukan ancaman. Bahasa kesetaraan, bukan dominasi. Bahasa kemajuan, bukan ketakutan.
Kayhan benar. Trump tidak pernah mencari perdamaian. Apa yang Trump cari hanyalah penyerahan.. dan pastinya, itu tidak akan pernah didapatkan oleh Trump. [PP/MT]
