Turki Tingkatkan Serangan ke Timur Laut Suriah
POROS PERLAWANAN – Ketegangan di perbatasan Turki-Suriah semakin meningkat setelah kelompok militan Kurdi di Suriah menolak seruan Pemimpin Partai Pekerja Kurdistan (PKK), Abdullah Ocalan, untuk membubarkan kelompok bersenjata. Sebagai respons, Militer Turki memperhebat operasi militernya di wilayah utara Suriah.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengungkapkan bahwa Militer Turki dan kelompok bersenjata lokal yang didukungnya telah meningkatkan serangan mereka di wilayah timur laut Suriah.
Menurut SDF, jet tempur Turki telah melancarkan beberapa serangan udara di dekat Bendungan Tishrin, di bagian timur Provinsi Aleppo. Serangan udara ini disertai dengan serangan artileri berat, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan material di wilayah tersebut.
Serangan Darat oleh Kelompok Bersenjata Suriah
Selain serangan udara dan artileri, kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Turki juga melancarkan serangan darat terhadap wilayah yang dikuasai Kurdi. Namun, menurut SDF, serangan tersebut tidak menghasilkan kemajuan strategis di lapangan.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan dari pemerintahan oposisi Suriah belum memberikan tanggapan resmi terkait pertempuran antara pasukannya dan kelompok Kurdi. Namun, sebelumnya Kementerian tersebut sempat mengumumkan bahwa beberapa anggota Tentara Nasional Suriah—kelompok bersenjata yang didukung Turki—akan bergabung dengan struktur militer baru yang sedang dibentuk di Suriah.
Turki Desak Kurdi Suriah Patuhi Seruan Abdullah Ocalan
Peningkatan serangan Turki ini terjadi setelah Pemerintah Ankara meminta kelompok Kurdi di Suriah untuk mematuhi seruan Abdullah Ocalan. Dua hari sebelumnya, Ocalan menyerukan semua kelompok bersenjata Kurdi untuk meletakkan senjata dan menghentikan perlawanan bersenjata.
Namun, Komandan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), Mazloum Abdi, pada Kamis pekan lalu menyatakan bahwa seruan Ocalan hanya berlaku bagi PKK dan tidak ada kaitannya dengan SDF di Suriah.
“Seruan tersebut merupakan langkah positif karena menyerukan diakhirinya perang dan dimulainya proses politik damai di dalam Turki. Jika perdamaian tercapai di Turki, maka tidak ada alasan lagi bagi Ankara untuk melanjutkan serangan terhadap kami di Suriah,” ujar Abdi.
Selain itu, Salih Muslim, anggota Dewan Kepemimpinan Partai Persatuan Demokratik (PYD)—salah satu kelompok politik utama di wilayah otonom Kurdi di Suriah—menegaskan bahwa kepemimpinan PKK tidak akan serta-merta mematuhi seruan Ocalan tanpa melalui kajian mendalam.
Respons Pemerintah Turki
Dari pihak Turki, Juru Bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Omer Celik, dalam wawancara dengan kantor berita Anadolu pada Jumat 1 Maret menegaskan bahwa permintaan Turki untuk pelucutan senjata kelompok bersenjata tidak hanya terbatas pada Irak, tetapi juga mencakup Suriah.
“Ketika kita berbicara tentang organisasi teroris, kita merujuk pada semua cabangnya, baik di Irak maupun Suriah—termasuk PKK, PYD, YPG, dan SDF, tanpa terkecuali. Kami menegaskan bahwa semua cabang organisasi teroris ini harus dihancurkan,” ujarnya.
Turki menganggap PYD dan sayap militernya, YPG, sebagai perpanjangan dari PKK, yang telah lama diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh Ankara. SDF, yang didirikan pada 2015 dengan dukungan Amerika Serikat, juga dianggap sebagai bagian dari struktur yang sama.
Pada Sabtu 2 Maret, PKK menyatakan dukungannya terhadap seruan Abdullah Ocalan untuk gencatan senjata dengan Turki. Namun, pernyataan tersebut tidak mencantumkan kesediaan kelompok tersebut untuk melucuti senjata.
Ketegangan yang semakin meningkat ini memperburuk situasi keamanan di perbatasan Suriah-Turki, di mana konflik antara pasukan Turki dan kelompok bersenjata Kurdi terus berlanjut.
