Ujian Martabat Erdogan dan Imran Khan, Siapa Bakal Lulus dengan Predikat Memuaskan?
POROS PERLAWANAN – Harian Yedioth Ahronoth melaporkan, Presiden Turki Recep Tayib Erdogan dalam kontak telepon dengan Presiden Israel mengutuk operasi berani syahid oleh warga Palestina baru-baru ini, yang telah menewaskan 11 pemukim Zionis. Erdogan menyebutnya sebagai aksi terorisme dan mendoakan agar mereka yang terluka segera pulih.
Dilansir al-Alam, perkembangan cepat dan signifikan hubungan Turki-Israel bukan hal aneh bagi mayoritas pengamat yang mengetahui eratnya hubungan kedua belah pihak, yang sudah bermula sejak dekade 40 lalu. Tak berapa lama setelah Rezim Zionis menancapkan cakarnya di jantung Dunia Islam, Turki adalah negara Islam pertama yang mengakui Israel.
Volume transaksi dagang dan hubungan keamanan, militer, serta ekonomi keduanya juga tidak terpengaruh oleh sandiwara kebijakan anti-Zionis yang dipertunjukkan Erdogan di awal kekuasaannya untuk menarik simpati publik Islam-Arab. Bahkan hubungan dan kerja sama ini justru meluas ke berbagai bidang.
Erdogan telah membuktikan bahwa dirinya dengan mudah mengabaikan semua prinsip, nilai, bahkan slogan-slogannya sendiri. Ia menunjukkan bahwa hal terpenting baginya bukan kepentingan nasional, bahkan besar kemungkinan kepentingan partainya melebihi segala hal lain.
Erdogan bahkan mengkudeta semua cabang Ikhwan al-Muslimin di dunia hanya demi meyakinkan Rezim Zionis untuk membuat jalur pipa gas curian Palestina melalui Turki.
Di saat Erdogan memutus hubungan sepenuhnya dengan Ikhwan al-Muslimin, kita melihat dirinya memperkuat hubungan dengan para musuhnya, seperti Mesir, UEA, dan Saudi. Ia menutup kasus pembunuhan Jamal Khashoggi sebagai imbalan dicabutnya embargo produk-produk Turki oleh Saudi. Erdogan menyerahkan semua dokumen kasus ini kepada pengadilan Dinasti Saudi. Ia pun rela berdamai dengan Mesir dan UEA demi kepentingan-kepentingan ekonomi.
Para pakar meyakini, semua pragmatisme Erdogan telah menghancurkan ilustrasi yang dibuatnya selama 2 dekade terakhir sebagai “pemimpin baru Dunia Sunni dan penghidup kekaisaran Ottoman”.
Berbanding terbalik dengan Erdogan adalah PM Pakistan, Imran Khan. Dia menjadi target tekanan dan ancaman terbuka AS lantaran menolak membangun pangkalan Paman Sam di negaranya. Meski begitu, ia bukan hanya tidak menyerah, tapi justru menantang AS dan membuktikan bahwa orang-orang Pakistan bukan budak.
Imran Khan menegaskan bahwa Pakistan tidak akan bertekuk lutut, kendati ekonomi negaranya tidak sebaik ekonomi negara Erdogan.
