Ukraina Mulai Serang Wilayah Rusia dengan Rudal Inggris-Prancis
POROS PERLAWANAN – Setelah mendapatkan lampu hijau dari negara-negara Barat, Ukraina melancarkan serangan ke wilayah Rusia menggunakan rudal Storm Shadow buatan Inggris dan Prancis.
Menurut laporan Fars News Agency, pada Kamis 21 November, kemarin untuk pertama kalinya Ukraina menggunakan rudal Storm Shadow untuk menyerang target di dalam wilayah Rusia. Seorang pejabat anonim mengonfirmasi kepada Reuters bahwa rudal Barat tersebut telah digunakan. Media Inggris juga melaporkan penggunaan rudal jelajah tersebut berdasarkan informasi dari sumber-sumber tepercaya.
Pernyataan Pejabat Ukraina
Ketika ditanya tentang penggunaan rudal ini, Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov menyatakan, “Kami menggunakan semua alat untuk mempertahankan negara kami, jadi saya tidak akan masuk ke detail.”
Sementara itu, seorang blogger militer Rusia memposting gambar di Telegram yang menunjukkan sisa-sisa rudal tersebut, yang diduga ditembakkan ke wilayah Kursk, Rusia. Ia mengeklaim bahwa 12 rudal Storm Shadow telah diluncurkan ke wilayah tersebut, termasuk ke desa Marino yang berjarak sekitar 35 mil dari perbatasan Ukraina. Gambar yang diunggah menunjukkan komponen rudal dengan nama jelas pada bagian tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh seorang pakar senjata sebagai milik rudal jelajah Storm Shadow.
Persetujuan Barat untuk Serangan ke Rusia
Sebelumnya, Inggris dan Prancis hanya memberikan rudal ini kepada Ukraina untuk digunakan di dalam wilayahnya sendiri. Namun, serangan ke wilayah Rusia menunjukkan perkembangan baru, setelah Kyiv mendapat izin dari Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis untuk menggunakan senjata jarak jauh ini di luar batas negaranya.
Pada Selasa 19 November, jaringan berita Amerika, CNN, mengutip media Rusia yang melaporkan bahwa Ukraina telah meluncurkan rudal ATACMS buatan Amerika ke wilayah Bryansk, Rusia, setelah mendapat persetujuan dari Pemerintahan Biden.
Kemampuan Rudal
Rudal Storm Shadow memiliki jangkauan sekitar 250 kilometer, sedikit lebih pendek dibandingkan rudal ATACMS. Penggunaan rudal jarak jauh ini mencerminkan peningkatan eskalasi konflik, dengan dukungan terbuka dari Barat untuk aksi Ukraina di luar perbatasannya.
Serangan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika perang, yang berpotensi memicu respons lebih keras dari Rusia terhadap dukungan militer Barat untuk Ukraina.
