Ultimatum Trump kepada Joseph Aoun: Pilih al-Jolani atau Netanyahu!
POROS PERLAWANAN – Kunjungan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, ke Washington baru-baru ini menyita perhatian dunia. Meski di permukaan terlihat seperti pertemuan diplomatik biasa, laporan terbaru dari surat kabar Lebanon, al-Akhbar, mengungkap adanya drama “di balik layar” yang jauh lebih krusial bagi masa depan Lebanon dan peta kekuatan regional.
Diberitakan Fars, dalam tulisan mendalam oleh Ibrahim Amin, terungkap bahwa Washington—melalui Donald Trump—telah memberikan ultimatum keras kepada Aoun. Trump disebut menuntut Aoun untuk memilih salah satu dari dua skenario: berkoordinasi dengan Abu Muhammad al-Jolani untuk menumpas Hizbullah, atau kembali menghadapi tekanan politik dari Benjamin Netanyahu.
Kunjungan “Bersejarah” atau Sekadar Formalitas?
Awalnya, tim pendukung Aoun berusaha mencitrakan kunjungan ini sebagai momen bersejarah. Namun, al-Akhbar menyoroti bahwa ada agenda rahasia yang jauh lebih penting daripada pertemuan seremonial di Gedung Putih. Amerika Serikat disebut-sebut telah menetapkan “syarat masuk” bagi siapa pun yang ingin mendapatkan dukungan penuh dari Trump: yakni kesiapan untuk mengabdi pada kepentingan keamanan nasional AS.
Dalam skenario ini, Aoun dianggap sebagai sosok yang diharapkan bisa menjalankan misi tersebut. Penulis artikel menyebutkan bahwa dalam pertemuan dengan delegasi Lebanon, pihak AS tampak tidak tertarik pada tumpukan berkas, peta, atau proposal militer yang dibawa oleh tim teknis Lebanon terkait kedaulatan negara. Sebaliknya, delegasi politik Lebanon seolah diperintahkan untuk sekadar “menandatangani” apa yang sudah disiapkan oleh Departemen Luar Negeri AS tanpa banyak tanya.
Pergeseran Posisi Trump Terhadap Netanyahu
Analisis menarik lainnya adalah pergeseran sikap Trump terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Laporan tersebut mengeklaim bahwa Trump kini mulai memandang Netanyahu sebagai beban bagi kepentingan AS. Trump dikabarkan kecewa karena Netanyahu dianggap gagal memenuhi janji-janji strategisnya, baik terkait isu Iran maupun konflik di Lebanon.
Akibat kekecewaan ini, Trump kini mencari “alternatif” untuk menyelesaikan masalah di Lebanon, alih-alih terus mengandalkan skema lama yang melibatkan militer Israel.
‘Kartu Baru’ di Timur Tengah: Peran Turki dan al-Jolani
Untuk keluar dari kebuntuan, Trump disebut-sebut mulai menyusun strategi baru yang melibatkan aktor regional lainnya. Rencana ini melibatkan Turki sebagai pemain utama, dengan koordinasi dari Arab Saudi.
Poin paling mengejutkan dalam laporan tersebut adalah peran yang ditujukan bagi Abu Muhammad al-Jolani. Washington tampaknya mempertimbangkan “manajemen gaya Suriah” di bawah kendali al-Jolani untuk memuluskan langkah politik dan keamanan di Lebanon. Strategi ini diharapkan dapat menjadi jalan keluar bagi AS untuk menekan pengaruh Iran dan melumpuhkan Hizbullah tanpa harus sepenuhnya bergantung pada agresi militer Israel yang dianggap kontraproduktif.
Pesan Akhir: Berdamai atau Terjebak Konflik
Secara gamblang, pesan yang disampaikan kepada Aoun di Washington sangat tajam: Lebanon harus mulai mendekat ke Damaskus dan Ankara. Hubungan dengan kedua pihak tersebut kini dianggap sebagai “pintu wajib” jika Lebanon ingin memenuhi agenda Washington dalam membatasi pengaruh Iran.
Ultimatum ini menjadi cerminan betapa rumitnya politik di Timur Tengah saat ini. Bagi Aoun, pilihannya kini terasa seperti berada di persimpangan jalan: tunduk pada skenario baru yang melibatkan al-Jolani, atau kembali berhadapan dengan ketidakpastian di bawah bayang-bayang Netanyahu.
