Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

UNICEF: Situasi di Gaza Sangat Buruk, Bantuan Harus Masuk Tanpa Batasan

Potret Pilu Anak-anak Yatim Gaza: Terluka, Sendirian, dan Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

POROS PERLAWANAN – Seorang pejabat senior UNICEF menyatakan bahwa, bertentangan dengan ketentuan perjanjian gencatan senjata, bantuan yang masuk ke Jalur Gaza masih jauh dari mencukupi. Ia memperingatkan akan terjadinya bencana kemanusiaan di wilayah tersebut, dengan menegaskan: “Rakyat Gaza membutuhkan segalanya. Setidaknya 600 truk bantuan harus memasuki wilayah ini setiap hari, sesuai dengan kesepakatan.”

Menurut laporan Tasnim News Agency, pada Minggu 19 Oktober, Rezim Israel terus berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata Gaza, tidak hanya dengan menewaskan puluhan warga sipil dalam waktu kurang dari sepuluh hari, tetapi juga dengan menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan.

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan di jalur tersebut kian mengerikan, dan menegaskan bahwa bantuan harus diberikan tanpa batasan.

Koordinator Darurat Senior UNICEF, Hamish Young menyoroti kondisi yang memprihatinkan di Gaza dan berkata: “Seluruh pasokan penting harus masuk tanpa hambatan. Kualitas bantuan sama pentingnya dengan kuantitasnya.”

Ia menambahkan: “Selain peralatan untuk produksi dan distribusi air, bahan bakar, serta pipa untuk memperbaiki sumur dan pabrik desalinasi, warga Palestina juga sangat membutuhkan tenda, terpal, dan air minum bersih.”

Pejabat tersebut menjelaskan bahwa 50 truk milik UNICEF kini menunggu izin untuk mengirimkan bantuan medis dan perlengkapan kebersihan penting demi menyelamatkan nyawa anak-anak.

Meskipun perjanjian gencatan senjata menetapkan 600 truk bantuan per hari, sejak 10 Oktober baru 653 truk yang berhasil masuk ke Jalur Gaza.

“Rumah sakit di Gaza telah hancur atau rusak berat. Warga di sini menghadapi kekurangan makanan dan tempat tinggal yang ekstrem,” ujarnya.

“Untuk menanggulangi kelaparan di Gaza utara, kami sangat membutuhkan pasokan pangan. Melindungi anak-anak di Gaza adalah prioritas mendesak yang tidak dapat ditunda.”

Ia menegaskan pentingnya memastikan agar sedikitnya 600 truk bantuan, termasuk yang berasal dari UNICEF, Program Pangan Dunia (WFP), Dana Kependudukan PBB (UNFPA), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dapat memasuki Gaza setiap hari, bersama dengan dukungan dari lembaga swasta dan para donor.

UNICEF juga menyoroti kebutuhan harian akan 50 truk bahan bakar dan gas memasak, serta menekankan: “Akses yang aman dan kebebasan bergerak di Gaza sangat penting untuk menjamin penyaluran bantuan bagi anak-anak dan keluarga mereka yang paling rentan.”

Sementara itu, Penyeberangan Rafah, satu-satunya pintu masuk Jalur Gaza melalui Mesir dan jalur vital bagi obat-obatan, bahan bakar, serta bantuan kemanusiaan, terus mengalami penutupan dan pembukaan berulang sejak agresi besar-besaran Israel dimulai tahun lalu.

Dalam negosiasi terbaru yang dimediasi Mesir dan Qatar, disepakati bahwa perlintasan Rafah akan dibuka untuk evakuasi korban luka dan pengiriman bantuan. Namun, keputusan baru Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu untuk menolak pembukaan perbatasan itu dianggap sebagai upaya meningkatkan tekanan politik terhadap Hamas dan melemahkan kesepakatan gencatan senjata.

Tadi malam, Hamas dalam pernyataannya menyebut keputusan Netanyahu untuk menutup Rafah sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata” serta “pengabaian terhadap komitmen” yang telah dibuat kepada para mediator.

Hamas menegaskan bahwa tindakan tersebut mencerminkan ketidakpatuhan Kabinet Netanyahu terhadap kesepakatan yang berlaku, sekaligus melanjutkan kebijakan pengepungan dan tekanan terhadap lebih dari dua juta warga Palestina di Jalur Gaza.

Tags: