Usaha Putus Asa Geagea Rebut Kursi Parlemen dari Barisan Perlawanan Lebanon
POROS PERLAWANAN — Di bawah bayang-bayang kegagalan proyek imperialis di Asia Barat, Samir Geagea dan partai Pasukan Lebanon kembali bermanuver. Dengan dukungan Riyadh dan restu Washington, mereka berupaya merebut kursi parlemen dari barisan Perlawanan. Sebuah usaha putus asa untuk membendung gelombang kebangkitan Hizbullah dan Partai Amal.
Dalam bayang-bayang negosiasi antara Washington dan Teheran, Geagea dan kelompoknya dilanda kecemasan. Mereka paham betul, setiap keberhasilan diplomatik antara kedua kekuatan itu merupakan ancaman langsung bagi rencana penghancuran Perlawanan. Maka, tanpa membuang waktu, partai Pasukan Lebanon melancarkan tekanan terorganisasi terhadap Presiden Joseph Aoun, sebagai bagian dari upaya untuk mengacaukan medan politik domestik Lebanon.
Geagea, yang telah lama menjadi alat proyek kudeta AS-Israel di Kawasan, menyadari bahwa keberhasilan diplomasi akan memperkuat Perlawanan, khususnya Hizbullah, yang kini sedang bangkit membangun kembali infrastruktur dan kapasitas militernya pasca-agresi Israel-AS terbaru.
Di kancah domestik, kelompok Geagea semakin kehilangan simpati. Retorika mereka, yang mengungkit-ungkit luka lama era perang saudara, justru membuat banyak faksi lokal mengambil jarak dan memilih menunggu hasil perundingan global ketimbang terseret dalam bara sektarianisme.
Proyek politik Geagea tak lain adalah kelanjutan dari agenda kolonial: membelah Lebanon, mengisolasi warga Syiah, dan menghidupkan kembali impian Sykes-Picot dalam bentuk baru. Sebuah upaya putus asa untuk membalas kegagalan telak mereka pada awal 1980-an, saat Perlawanan berhasil menggagalkan rencana Pendudukan
Peran Geagea kini sepenuhnya terang benderang; mengobarkan konflik sektarian, menyerukan pelucutan senjata Perlawanan, dan mengampanyekan marginalisasi dan penyingkiran komunitas Syiah di Lebanon. Tentu sebuah agenda yang bahkan membuat sebagian sekutu regionalnya mulai enggan menunjukkan dukungan terbuka.
Pemilihan parlemen yang dijadwalkan pada Mei 2026 menjadi medan baru bagi ambisi partai Pasukan Lebanon. Mereka bermimpi, melalui aliansi rapuh, dapat merebut setidaknya satu dari 27 kursi parlemen yang dialokasikan untuk komunitas Syiah, guna mengguncang posisi Ketua Parlemen yang selama ini dipegang oleh Partai Amal dan Hizbullah.
Sumber tepercaya mengungkapkan bahwa Riyadh kini mendukung penuh kandidat Geagea, Fouad Makhzoumi, setelah Nawaf al-Salam dinilai gagal membuktikan kapasitas politiknya di lapangan.
Dalam situasi yang penuh ketegangan, Geagea memusatkan upayanya untuk menggagalkan setiap langkah rekonstruksi atas kerusakan besar yang diakibatkan oleh agresi Israel-AS beberapa bulan lalu. Pasukan Lebanon bahkan membatalkan rancangan undang-undang yang bertujuan membangun kembali rumah-rumah rakyat di wilayah Selatan dan Nabatieh, serta menggagalkan upaya pembebasan denda air dan listrik bagi daerah-daerah yang terdampak.
Sementara itu, apa yang disebut sebagai “komunitas internasional” terus menahan bantuan rekonstruksi, mensyaratkan kepatuhan penuh Pemerintah Lebanon terhadap diktat AS dan Saudi. Padahal, menurut berbagai pakar, Kementerian Keuangan Lebanon memiliki dana cukup di Bank Sentral yang dapat digunakan untuk memulai proses rekonstruksi secara mandiri; seandainya ada kemauan politik nasionalis sejati.
Sayangnya, Pemerintah Lebanon justru memilih diam dan pasif: enggan membentuk Badan Rekonstruksi Nasional, mengabaikan inisiatif lokal, dan gagal menggalang dukungan dari diaspora Lebanon untuk membiayai pembangunan kembali negeri mereka sendiri.
Semua ini berlangsung di tengah terhambatnya bantuan dari Iran dan Irak, sekutu alami rakyat Lebanon, memperjelas bahwa pertarungan ini melampaui sekadar perebutan kursi parlemen. Ini adalah pertarungan eksistensial: antara proyek kehancuran yang diusung Geagea dan patron-patronnya, melawan tekad Perlawanan yang terus membara dan tak pernah tunduk pada makar dan kezaliman.
