Veto AS atas Gaza: Komedi Gelap PBB dan Kolonialisme Modern
POROS PERLAWANAN – Amerika Serikat pada Kamis 18 September kembali menekan tombol veto di Dewan Keamanan PBB, menggagalkan resolusi gencatan senjata di Gaza. Bagi rakyat Palestina, ini bukan berita baru. Bagi dunia, ini semata pengingat pahit, bahwa PBB bukan penjaga perdamaian, melainkan panggung di mana kekuatan besar mempertontonkan hak istimewanya.
Pola Lama: Washington, Penjaga Setia Tel Aviv
Sejak puluhan tahun lalu, Washington selalu siaga memblokir setiap upaya internasional yang berusaha menahan Israel. Puluhan resolusi kandas bukan karena kurang dukungan global, tapi karena satu negara, yaitu AS yang menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang boleh mati.
Dengan dalih “Hamas bertanggung jawab”, AS menutup mata dari fakta lapangan: ribuan warga sipil Gaza terbunuh, rumah hancur, rumah sakit lumpuh, dan kelaparan menyebar. Narasi Washington jelas, untuk melindungi Israel dulu, sisanya urusan nanti.
Kepentingan Strategis atau Pembenaran?
Veto ini bukan soal moralitas, melainkan geopolitik telanjang. Israel adalah batu pijakan AS di Timur Tengah, wilayah yang sejak lama dianggap “ladang energi dan panggung kekuasaan”. Dengan melindungi Tel Aviv, Washington membeli stabilitas bagi dirinya sendiri sambil menjual instabilitas bagi orang lain.
Logika inilah yang membuat penderitaan rakyat Gaza terus dilabeli sebagai “efek samping perang melawan terorisme”. Sebuah stempel yang nyaman, tapi beracun.
PBB: Dari Penjaga Perdamaian Menjadi Penonton
Setiap kali veto dijatuhkan, kredibilitas PBB ikut terkubur di bawah reruntuhan Gaza. Dewan Keamanan yang seharusnya jadi benteng terakhir kemanusiaan kini lebih mirip teater boneka, di mana lima negara pemegang veto bisa mengoyak suara mayoritas sesuka hati. Ketidakberdayaan PBB ini bukan soal kelemahan struktural, tapi bentuk kolonialisme modern: satu negara dengan hak istimewa bisa memutuskan nasib jutaan manusia, sementara mayoritas dunia hanya bisa menyaksikan.
Dunia yang Bosan dengan Drama Veto
Dari Aljazair hingga Rusia, dari Denmark hingga Palestina, semua sepakat, bahwa PBB gagal menjalankan mandatnya. Namun protes semacam ini semakin terdengar seperti seruan kosong di ruang kedap suara. Dunia sudah terlalu sering mendengar kalimat “kami menyesalkan”, sementara bom tetap jatuh di Gaza.
Setiap Veto, Sebuah Pengkhianatan
Dengan setiap veto yang dijatuhkan, Amerika Serikat tidak hanya melindungi Israel, juga mengkhianati gagasan dasar PBB itu sendiri. Bagi rakyat Gaza, veto ini bukan persoalan politik, melainkan perpanjangan penderitaan. Bagi dunia, ini adalah bukti telanjang bahwa keadilan internasional selama ini hanyalah retorika yang dipermainkan negara besar.
Jika PBB terus membiarkan diri dipasung oleh hak veto, maka lembaga itu tak lebih dari museum, tempat menyimpan sisa-sisa idealisme dunia yang mati pelan-pelan di Jalur Gaza.
