[Video] Rumah Netanyahu Dilempari Cerawat. Merugikan atau Menguntungkan Dirinya?
POROS PERLAWANAN – Pelemparan 2 cerawat ke pelataran rumah Benyamin Netanyahu di Caesariya di utara Tel Aviv menimbulkan kehebohan keamanan-politik di Israel.
Diberitakan Fars, Jubir Polisi dan Shin Bet dalam pernyataan bersama mengumumkan, peristiwa itu terjadi pukul 19.30 waktu setempat. Penyelidikan masih berlangsung hingga saat ini.
Berdasarkan pengumuman tersebut, aparat keamanan Israel telah ditempatkan di sekitar rumah Netanyahu. Polisi dan Shin Bet mengeklaim bahwa saat kejadian, Netanyahu dan anggota keluarganya tidak berada di rumah tersebut.
Akibat lemparan dua cerawat tersebut, beberapa bagian dari taman pelataran rumah Netanyahu terbakar.
Meski demikian, kejadian itu memicu beragam reaksi di forum-forum politik dan media Rezim Zionis. Situs Walla menulis,”Pelemparan cerawat ke pelataran rumah Netanyahu adalah satu kegagalan lain dalam menjaga keamanan rumah Perdana Menteri.”
Menteri Hukum Israel, Yariv Livin berusaha mengkambinghitamkan para penentang Netanyahu atas kejadian tersebut.
Dalam pesannya, Livin mendesak untuk memulai proses apa yang disebutnya sebagai “reformasi yudisial” Israel. “Reformasi yudisial” ini adalah perubahan besar-besaran dalam sistem hukum yang sejak 2 tahun lalu menyulut gelombang protes luas terhadap Netanyahu.
“Ada kemungkinan bahwa para penentang kebijakan Netanyahu berada di balik pelemparan cerawat ini,” cuit Livin.
Menteri Keamanan Domestik, Itamar Ben-Gvir mengatakan,”Provokasi terhadap Netanyahu adalah pelanggaran seluruh garis merah. Hari ini mereka melempar cerawat. Namun besok menggunakan peluru tajam. Provokasi terhadap Netanyahu dan keluarganya harus dihentikan.”
Para pimpinan partai-partai oposisi, termasuk Yair Lapid, juga mengecam kejadian tersebut. Pemimpin kubu oposisi Israel itu mendesak agar pelaku segera ditangkap.
Peristiwa ini terjadi di saat beberapa hari ke depan, Netanyahu akan menjalani pengadilan dalam kasus-kasus korupsinya. Tampaknya peristiwa ini akan berakhir dengan keuntungan untuk PM Israel. Terlebih Livin melihat ini sebagai peluang yang tepat untuk memulai kembali proses “reformasi yudisial.”
