Warga Alawi Suriah Gelar Demonstrasi Besar-Besaran Menentang Rezim al-Jolani
POROS PERLAWANAN – Ribuan warga Alawi di Suriah turun ke jalan pada Kamis 6 Maret, untuk memprotes Pemerintahan baru yang dipimpin oleh al-Jolani. Demonstrasi terjadi di berbagai wilayah, terutama di kota-kota pesisir seperti Latakia, Jabaleh, dan Tartus, yang merupakan basis utama komunitas Alawi di negara tersebut.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews pada Jumat 7 Maret, aksi protes ini dipicu oleh meningkatnya serangan terhadap komunitas Alawi oleh elemen bersenjata yang berafiliasi dengan Pemerintahan al-Jolani. Massa yang turun ke jalan meneriakkan slogan-slogan menentang kepemimpinan Jolani, yang dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan komunitas mereka di tengah situasi politik yang tidak stabil.
Dalam salah satu rekaman video yang beredar, para demonstran terdengar meneriakkan: “Wahai Jabaleh, kami bersamamu hingga akhir hayat kami.” Jabaleh, yang terletak di pesisir Laut Mediterania, menjadi pusat aksi protes setelah mengalami serangan intensif dalam beberapa hari terakhir. Kota ini telah menjadi target kekerasan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Pemerintahan baru, yang mencoba menguasai wilayah strategis tersebut.
Bentrokan di Latakia, Sejumlah Pasukan Al-Jolani Tewas
Ketegangan di wilayah pesisir semakin meningkat setelah terjadi bentrokan antara pasukan bersenjata yang setia kepada Jolani dan Kelompok Perlawanan yang beranggotakan warga Alawi. Menurut laporan media yang dekat dengan kelompok Jolani, beberapa anggota pasukan keamanan Pemerintahan baru tewas dalam konfrontasi yang terjadi di Latakia. Pasukan ini sebelumnya dikirim untuk meredam gejolak di wilayah tersebut, namun upaya mereka tidak membuahkan hasil.
Hingga saat ini, situasi di Latakia tetap tegang. Bentrokan telah berlangsung selama lebih dari 24 jam, dan pasukan Jolani masih belum mampu mengendalikan keadaan atau mengembalikan stabilitas di wilayah tersebut.
Dewan Tertinggi Islam Alawi Suriah Keluarkan Pernyataan Resmi
Dewan Tertinggi Islam Alawi Suriah, yang merupakan lembaga keagamaan dan sosial tertinggi komunitas Alawi, mengeluarkan pernyataan resmi pada Kamis malam 6 Maret, mengecam eskalasi kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah.
“Karena hancurnya rumah-rumah warga sipil dalam serangan udara, kami menyerukan agar serangan di Datour, Tartus, dan Jabaleh segera dihentikan,” bunyi pernyataan tersebut.
Dewan juga mengimbau warga Alawi untuk turun ke jalan secara damai dalam solidaritas dengan komunitas mereka yang terdampak, namun menegaskan bahwa aksi protes harus tetap berlangsung secara tertib dan terorganisasi.
“Kami mengajak seluruh warga Alawi untuk bersuara dalam menghadapi ketidakadilan, tetapi dengan cara yang rasional. Kami mendesak para demonstran untuk hanya meneriakkan slogan-slogan nasional dan menghindari tindakan perusakan properti yang dapat memperburuk situasi,” lanjut pernyataan itu.
Demonstrasi Meluas ke Suriah Selatan
Gelombang protes tidak hanya terjadi di wilayah pesisir. Di Suriah Selatan, khususnya di Ibu Kota Provinsi Sweida, aksi demonstrasi juga digelar menentang Pemerintahan baru di Damaskus. Sweida, yang mayoritas penduduknya adalah warga Druze, dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat gerakan oposisi terhadap rezim yang berkuasa, dan kini kembali menunjukkan sikap penolakan terhadap kepemimpinan Jolani.
Para analis memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di antara kelompok-kelompok etnis dan sektarian di Suriah dapat memicu konflik yang lebih luas. Jika gelombang protes ini terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok lain, stabilitas Pemerintahan baru di Damaskus akan semakin terancam.
Situasi di Suriah semakin kompleks dengan meningkatnya perlawanan dari komunitas Alawi terhadap Pemerintahan baru yang dipimpin oleh Aal-Jolani. Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Latakia, Jabaleh, Tartus, dan Sweida menunjukkan bahwa kelompok-kelompok tertentu menolak kepemimpinan baru ini, terutama setelah serangkaian serangan yang menghantam komunitas mereka.
Meskipun pasukan al-Jolani berupaya meredam ketegangan, bentrokan yang terjadi di berbagai kota menunjukkan bahwa konflik ini masih jauh dari selesai. Jika situasi tidak segera dikendalikan, Suriah berpotensi mengalami eskalasi kekerasan yang lebih luas dalam beberapa waktu mendatang.
