Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Warga Kiryat Shmona: Kami Lebih Terbantu Saat Terjadi Serangan Roket

POROS PERLAWANAN — Sebuah media berbahasa Ibrani melaporkan meningkatnya protes warga Kota Kiryat Shmona terhadap kondisi ekonomi yang memburuk pascaperang. Para pemukim menilai situasi kehidupan mereka saat ini bahkan lebih sulit dibandingkan masa terjadinya serangan roket.

Menurut Kantor Berita Tasnim pada Rabu 18 Desember, stasiun televisi Israel Channel 12, yang dikenal dekat dengan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, menayangkan wawancara dengan sejumlah pemukim Kiryat Shmona dalam sebuah program khusus. Kota di wilayah utara Palestina Pendudukan itu merupakan salah satu target serangan roket Hizbullah sejak 7 Oktober.

Salah seorang pemukim menyatakan bahwa kondisi di Kiryat Shmona terus memburuk dari hari ke hari. Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar warga telah meninggalkan kota tersebut, dan meskipun sebagian sempat kembali setelah perang berakhir, mereka kembali memilih pergi setelah menyaksikan kondisi permukiman serta buruknya layanan dari lembaga-lembaga terkait.

“Situasi di Kiryat Shmona semakin memburuk. Banyak yang sempat kembali setelah perang, tetapi setelah melihat kondisi kota dan cara layanan diberikan, mereka memutuskan untuk meninggalkannya secara massal,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa di tengah kondisi tersebut, muncul pernyataan yang mencerminkan keputusasaan warga. “Banyak yang berkata: ‘Kami berharap masih berada di masa serangan roket’, karena setidaknya saat itu kami menerima paket bantuan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar,” katanya.

Channel 12 melaporkan bahwa salah satu tuntutan utama warga pascaperang adalah pemberian hak istimewa ekonomi, termasuk pembebasan pajak bangunan serta keringanan pajak bagi perusahaan dan rumah tinggal.

Namun, pemukim tersebut menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang mereka hadapi saat ini jauh lebih berat dibandingkan masa perang.

“Kami sedang melewati masa yang sangat sulit. Kondisi ekonomi sekarang lebih buruk daripada saat perang. Ketika Anda tidak mampu memberi makan anak-anak, tidak bisa membayar listrik dan kebutuhan dasar lainnya, kehidupan menjadi jauh lebih berat daripada saat serangan berlangsung,” ungkapnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *