Pernyataan Intervensionis Guterres Soal Yaman, Abaikan Fakta Keterlibatan Staf PBB Dukung Jaringan Mata-mata Israel
POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres mengeluarkan pernyataan terkait krisis Yaman dengan menyerukan kepada seluruh pihak agar menyelesaikan konflik melalui jalur dialog.
Menurut Kantor Berita Tasnim pada Rabu 18 Desember, Guterres menegaskan bahwa aktivitas delegasi PBB di Yaman tidak boleh diganggu. Tanpa merujuk pada laporan mengenai dugaan aktivitas spionase oleh sejumlah perwakilan PBB di Sanaa, ia menyatakan bahwa PBB dengan tegas menentang penangkapan atau penahanan staf organisasi tersebut.
“Kami dengan tegas menentang penangkapan atau penahanan staf PBB,” ujar Guterres dalam pernyataannya.
Sekretaris Jenderal PBB itu juga menyampaikan bahwa rakyat Yaman “berhak atas perdamaian” dan menegaskan komitmen PBB untuk membantu mencapai tujuan tersebut. Namun, dalam pernyataannya, ia tidak menyinggung sanksi luas dan berkepanjangan yang diberlakukan terhadap Yaman serta dampaknya terhadap kondisi kemanusiaan rakyat negara itu.
Guterres kembali menyerukan penyelesaian krisis Yaman melalui dialog antara pihak-pihak yang bertikai dan menegaskan dukungan PBB terhadap berbagai upaya internasional yang bertujuan mendorong perdamaian di negara tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah pidato Pemimpin Gerakan Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badreddin al-Houthi yang mengungkap keterlibatan lembaga-lembaga internasional, termasuk UNICEF dan Program Pangan Dunia (WFP), dalam mendukung secara finansial jaringan mata-mata Israel.
Menurut al-Houthi, jaringan tersebut terlibat dalam berbagai tindakan kriminal, termasuk upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri serta sejumlah menteri Pemerintah Perubahan dan Pembangunan Yaman di Sanaa.
Al-Houthi menyebut hal tersebut sebagai skandal internasional besar yang hingga kini belum mendapat tanggapan resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
