Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Zelensky Jatuhkan Sanksi pada Iran: Lelucon Baru dari Rezim Pelawak yang Nyaris Ambruk

Ukraina, Contoh Negara yang Sengsara Lantaran ‘Keamanan Impor’

POROS PERLAWANAN – Di tengah kemelut perang berkepanjangan dengan Rusia dan krisis domestik yang kian memburuk, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali mengalihkan sorotan. Kali ini, Iran menjadi sasaran sanksi terbarunya. Sebuah langkah simbolik yang tampaknya lebih bernuansa politis ketimbang strategis.

Mengutip Kyiv Independent, daftar sanksi baru yang diteken Zelensky pada 9 Mei berdasarkan resolusi Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina itu mencakup 58 individu dan 74 perusahaan dari berbagai negara, termasuk Rusia, Tiongkok, Uzbekistan, dan Republik Islam Iran. Meski sebagian besar entitas yang disanksi berasal dari sektor industri militer Rusia, seperti 67 perusahaan yang disebut memainkan peran dalam penyediaan peralatan tempur. Dan kehadiran Iran dalam daftar ini menimbulkan tanda tanya besar.

Tak hanya entitas bisnis, Zelensky juga memasukkan sejumlah tokoh publik ke dalam daftar. Penyair dan seniman Rusia, Vadim Tsyganov serta istrinya, penyanyi Victoria Tsyganova, dijatuhi sanksi karena dukungan mereka terhadap operasi militer Rusia. Eksekutif industri seperti Yuri Churkin (CEO pabrik peralatan Forte) dan Petro Vashchenko (Presiden Unimatic) turut disasar, dengan tuduhan menyediakan teknologi untuk serangan terhadap Ukraina.

Pada 1 Mei, Zelensky telah menjatuhkan paket sanksi lainnya terhadap tokoh domestik Ukraina sendiri, termasuk Alexei Arestovich (mantan Penasihat Presiden), blogger Miroslav Oleshko, analis politik Kostyantyn Bondarenko, dan Dmytro Vasylits, mantan Ketua Partai Derzhava yang telah dilarang. Sementara itu, di sektor industri, perusahaan-perusahaan besar Rusia seperti Pabrik Baja NLMK, Novatek (proyek LNG Arktik), Pabrik Bijih Besi Stoilensky, dan Pabrik Elektroda Magnitogorsk juga turut disanksi.

Namun, sampai saat ini belum ada penjelasan terperinci dari otoritas Ukraina terkait bentuk sanksi terhadap Republik Islam Iran. Teheran pun belum mengeluarkan tanggapan resmi atas keputusan ini.

Zelensky sebelumnya menuduh Iran telah memasok rudal ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina, pernyataan yang telah berulang kali dibantah oleh pihak Iran sebagai tudingan tak berdasar yang diproduksi oleh propaganda Barat.

Sementara Ukraina kehilangan sebagian wilayahnya dalam perang dan kekuatan Barat mulai menunjukkan kelelahan dukungan, termasuk peringatan dari Pemerintahan Donald Trump tentang kemungkinan kekalahan Ukraina, Zelensky justru sibuk memperluas daftar musuhnya. Alih-alih merefleksikan kegagalan kebijakan luar negerinya, ia memilih jalan populisme sanksional terhadap negara-negara yang tak tunduk pada diktat Barat.

Langkah Zelensky terhadap Iran tak lebih dari sandiwara politik seorang pemimpin yang tenggelam dalam utang janji Barat, janji yang kini mulai membusuk seiring realitas medan tempur. Bagi rakyat Ukraina yang terus menderita akibat perang, keputusan ini hanyalah tambahan luka dari rezim yang alih-alih mencari perdamaian, terus memainkan peran boneka dalam teater geopolitik global.

Tags: