Zionis Serang Beirut: Komandan Fajr dan Akademisi Lebanon Gugur Dihantam Drone
POROS PERLAWANAN – Serangan pesawat nirawak Israel kembali merenggut nyawa pejuang garis depan Poros Perlawanan. Kali ini, korban syahid adalah Komandan Militer Gerakan Islam Lebanon dan profesor terkemuka di salah satu universitas Lebanon, Hussein Ezzat Atawi. Ia menjadi sasaran dalam perjalanan pagi dari rumahnya di Baourta menuju tempat kerja di Beirut, dalam sebuah pembunuhan presisi yang mencerminkan terorisme negara paling telanjang.
Menurut Kantor Berita Tasnimnews pada Selasa 22 April, serangan brutal itu terjadi pada Selasa pagi, namun baru diumumkan secara resmi setelah investigasi internal dan konfirmasi identitas korban pada malam. Gerakan Islam Lebanon dalam pernyataannya menuding langsung rezim pendudukan Zionis sebagai pelaku kejahatan ini, dan menyatakan bahwa Atawi selama ini adalah target lama Israel yang beberapa kali lolos dari upaya pembunuhan.
“Mereka tidak hanya memburu senjata, mereka memburu akal. Hussein Atawi adalah simbol perlawanan intelektual dan militer. Kini darahnya membasahi tanah yang sama yang ia bela,” bunyi pernyataan resmi Jamaat Islam Lebanon.
Resolusi Dilanggar, Kedaulatan Dibunuh, Dunia Diam
Menurut laporan lapangan, drone Israel menghantam mobil Atawi di daerah Damour, wilayah pegunungan selatan Beirut, jauh dari garis konfrontasi militer. Fakta ini membuktikan satu hal: Israel kini memperluas front perangnya ke seluruh Lebanon — dari utara hingga pusat kota, dari barikade hingga kampus.
Sementara itu, Pemerintah Lebanon tetap membisu. Padahal, lebih dari 100 warga sipil dan militer telah gugur atau terluka sepanjang masa “gencatan senjata” yang terus-menerus dilanggar oleh Tel Aviv. Dunia internasional — termasuk Komite Pemantau Gencatan Senjata yang digawangi Prancis dan Amerika Serikat; hanya mengeluarkan janji kosong. Resolusi 1701 menjadi saksi bisu dari pengkhianatan terhadap kedaulatan Lebanon.
Hingga kini, tidak ada satu pun pernyataan keras dari Pemerintah Lebanon, bahkan setelah lebih dari 100 warga sipil dan militer tewas atau terluka selama masa gencatan senjata. Sebaliknya, para pejabat tinggi negara itu terus berbicara tentang pelucutan senjata Perlawanan, narasi hasil bisikan dari Washington dan Tel Aviv.
Drone, Dusta, dan Demokrasi yang Mati
Pembunuhan Atawi bukan hanya serangan terhadap seorang Komandan Perlawanan, melainkan juga terhadap sebuah cara berpikir yang mengancam hegemoni Zionisme. Sebagai Pemimpin Pasukan Fajr sekaligus pengajar, Atawi menjelma sebagai jembatan antara medan perang dan medan pemikiran; sesuatu yang selalu ditakuti oleh entitas kolonial manapun sejak zaman Aljazair hingga Palestina.
Dengan darah Atawi, Israel sekali lagi menghapus garis antara militer dan sipil. Siapapun yang menolak tunduk, dibunuh. Siapapun yang membela Tanah Air, ditargetkan. Tak ada ruang aman, bahkan untuk seorang dosen yang sedang menuju ruang kuliah.
Dalam dunia yang dibius oleh diplomasi busuk dan ketulian kolektif, pembunuhan Atawi bukan hanya pengingat akan bahaya penjajahan, melainkan juga pengingat bahwa diam adalah bentuk pengkhianatan yang paling halus.
