Abaikan Yurisdiksi Teritorial Iran sesuai Hukum Internasional, NATO Malah Desak Teheran Hormati Kebebasan Navigasi di Selat Hormuz
POROS PERLAWANAN – Para pemimpin negara anggota NATO mendesak Iran menghormati kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan kembali menegaskan bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sikap tersebut tertuang dalam deklarasi penutup KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu 8 Juli, sebagaimana dilaporkan Mehr News Agency.
Dalam deklarasi tersebut, NATO kembali menegaskan komitmen terhadap pertahanan kolektif, termasuk peningkatan kemampuan pertahanan udara dan rudal. Aliansi itu menekankan bahwa setiap serangan terhadap satu negara anggota akan diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh anggota NATO.
Selain menyoroti keamanan pelayaran di Selat Hormuz, NATO kembali menegaskan pentingnya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan tanpa menyinggung posisi Iran yang selama ini menyatakan program nuklirnya semata-mata bertujuan damai. Sedangkan perihal hak pengelolaan yang sah atas Selat Hormuz, Teheran berpendapat bahwa sebagian wilayah Selat tersebut memang berada dalam perairan teritorial Iran sehingga hukum internasional pun mengakui kedaulatan dan yurisdiksi negara pantai atas wilayah tersebut.
Selain membahas isu Iran, para pemimpin NATO juga menyepakati peningkatan belanja pertahanan dan perluasan kapasitas industri militer guna memperkuat kesiapan aliansi menghadapi tantangan keamanan yang terus berkembang.
Dalam deklarasi yang sama, NATO menegaskan kembali dukungannya kepada Ukraina dengan menjanjikan bantuan militer senilai 70 miliar Euro sepanjang 2026.
Deklarasi penutup KTT NATO diterbitkan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat setelah kedua negara saling menuding melanggar nota kesepahaman penghentian perang. Situasi tersebut turut diwarnai eskalasi militer di kawasan Teluk dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
