Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Publik Menjadi Tokoh Utama dalam Liputan Penghormatan Pemimpin Syahid

POROS PERLAWANAN – Kantor Berita Mehr menilai liputan televisi nasional Iran terhadap rangkaian penghormatan dan pemakaman Pemimpin Syahid Revolusi Islam berhasil menempatkan masyarakat sebagai tokoh utama pemberitaan. Dalam ulasan media yang diterbitkan pada Jumat (10/7), Mehr menyebut televisi tidak hanya menyiarkan prosesi resmi, tetapi juga merekam besarnya partisipasi publik yang memenuhi berbagai lokasi penyelenggaraan acara.

Melalui rubrik mingguan Haft Rooz-e Sima, Mehr menulis bahwa figur utama dalam liputan kali ini bukan pejabat, tokoh politik, atau selebritas, melainkan masyarakat biasa. Perempuan, laki-laki, anak-anak, hingga lanjut usia yang bertahan berjam-jam di tengah cuaca panas dinilai menjadi wajah utama penghormatan kepada Pemimpin Syahid.

Menurut Mehr, pendekatan tersebut memperlihatkan modal sosial Iran melalui tayangan televisi. Kamera lebih banyak diarahkan kepada masyarakat yang hadir sehingga narasi dibangun dari pengalaman para pelayat, bukan dari tokoh-tokoh yang selama ini mendominasi ruang publik.

Dalam ulasan tersebut, televisi nasional Iran dinilai mengubah pola siaran dengan memindahkan sebagian besar penyiaran dari studio ke lokasi prosesi. Channel One, Channel Two, Channel Three, Channel Four, Ofogh TV, dan Tehran TV menempatkan presenter serta tim peliput di lapangan sehingga pemirsa dapat mengikuti jalannya acara secara langsung dari berbagai titik.

Liputan lapangan yang berlangsung sejak pagi hingga berakhirnya prosesi dinilai mempersempit jarak antara layar televisi dan peristiwa yang sedang berlangsung. Reporter tidak hanya menyampaikan perkembangan acara, tetapi juga mewawancarai masyarakat dan merekam suasana di lokasi.

Meski memberikan apresiasi, Mehr juga mencatat sejumlah kekurangan. Penggunaan narasi, sudut pengambilan gambar, serta format wawancara yang relatif seragam di berbagai jaringan televisi dinilai membuat sebagian tayangan kehilangan variasi. Menurut ulasan tersebut, setiap stasiun televisi semestinya mampu menghadirkan pendekatan visual yang berbeda sesuai karakter pemirsanya.

Mehr memberikan penilaian khusus kepada Channel Two yang dinilai paling optimal memanfaatkan kekuatan visual. Stasiun televisi itu memadukan siaran langsung dengan arsip perjalanan Pemimpin Revolusi Islam sehingga menghadirkan kesinambungan sejarah yang lebih kuat.

Artikel tersebut juga menekankan bahwa tugas televisi tidak berhenti pada siaran langsung. Dokumentasi selama sepekan terakhir dinilai perlu diolah menjadi film dokumenter dan karya audiovisual yang mampu membangun memori kolektif bangsa.

Sebagai rujukan, Mehr mengangkat adegan ikonik film Az Karkheh ta Rhein karya sutradara Ebrahim Hatamikia sebagai contoh bagaimana sebuah tayangan mampu bertahan dalam ingatan masyarakat selama bertahun-tahun. Televisi Iran dinilai perlu menghadirkan karya serupa agar dokumentasi penghormatan kepada Pemimpin Syahid menjadi bagian dari memori sejarah nasional.

Di akhir ulasannya, Mehr juga mencatat bahwa intensitas liputan televisi menurun setelah prosesi di Teheran berakhir. Rangkaian penghormatan di Qom dan Irak memperoleh porsi siaran yang lebih terbatas sebelum kembali meningkat saat prosesi berlangsung di Mashhad.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *