Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Legislator Hizbullah: Berhasilkah Pemerintah Lebanon Bebaskan Sejengkal pun Tanah Negara Via Diplomasi?

POROS PERLAWANAN – Anggota Parlemen Hizbullah, Hussein Jashi berpidato mengajukan pertanyaan kepada Pemerintah Lebanon:”Apakah jalur diplomatik yang Anda ambil sebelum perang baru-baru ini—di mana selama 15 bulan Lebanon dan rakyatnya diserang, dan setelah itu lima putaran negosiasi langsung diadakan—berhasil membebaskan sejengkal pun Tanah Air melalui langkah-langkah tersebut?”

Diberitakan Fars, melaporkan, anggota Parlemen Lebanon dari fraksi al-Wafa dalam pidatonya menyatakan, para pejabat Pemerintah Lebanon saat ini terkepung akibat penolakan luas terhadap “kerangka kerja kesepakatan” di tingkat nasional.

Ia menambahkan, penolakan ini telah melampaui batas-batas sektarian, karena banyak pihak menyadari bahwa kesepakatan ini bertentangan dengan konstitusi dan piagam nasional Lebanon, serta merugikan kepentingan strategis negara.

Anggota Parlemen Lebanon ini menyatakan, kerangka kerja kesepakatan tersebut menjadikan Lebanon sebagai sandera ambisi Israel dan berada di bawah kendali serta cengkeraman algojo Amerika.

Ia mencatat bahwa dalam kesepakatan ini, tidak ada penyebutan mengenai pendudukan atau penarikan Militer Zionis dari Lebanon. Sebaliknya, digunakan istilah “penataan ulang posisi” (rearrangement of positions); sebuah istilah yang digunakan berdasarkan perhitungan musuh demi kepentingan mereka sendiri, dan berdasarkan evaluasi mereka terhadap kinerja Pemerintah dalam hal melucuti senjata Hizbullah.

Merujuk pada pernyataan Presiden Lebanon di surat kabar al-Sharq al-Awsat yang berbunyi, “Kami memilih negosiasi untuk memperpendek masa pendudukan dan penderitaan penduduk di selatan,” Jashi bertanya kepadanya, “Apakah jalur diplomatik yang Anda tempuh sebelum perang terakhir—di mana selama 15 bulan Lebanon dan rakyatnya diserang, dan setelah itu lima putaran negosiasi langsung diadakan—berhasil membebaskan sejengkal pun tanah melalui langkah-langkah tersebut?”

“Apakah penandatanganan kerangka kerja kesepakatan dengan musuh telah mencegah berlanjutnya agresi harian, pembunuhan warga sipil tak berdosa, penghancuran rumah-rumah, dan penghancuran mata pencaharian masyarakat? Dalam hal ini, kami sampaikan kepada Kepresidenan bahwa rakyat Lebanon belum melihat hasil positif apa pun dari upaya diplomatik dan negosiasi langsung tersebut.”

“Anda berteman dengan Trump yang dapat memaksa Israel melakukan apa yang dia inginkan—sebuah ucapan yang juga dikonfirmasi oleh Trump sendiri dengan mengatakan ‘Netanyahu patuh pada keinginannya’ (seperti yang terlihat dari permintaan Trump kepada Netanyahu untuk gencatan senjata di Lebanon berdasarkan nota kesepahaman Islamabad, dan Netanyahu benar-benar mematuhinya), serta pernyataan Trump bahwa dia mencegah serangan udara Israel ke Iran dan memulihkan penerbangan. Meski demikian, Lebanon tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari persahabatan dengan Trump ini.”

“Dari pihak selatan (Lebanon) yang terluka, sabar, berdiri tegak, dan bangga, yang menjadi spesial lantaran kemuliaan para pejuangnya, serta dari para syuhada, mereka yang terluka, dan keluarga yang mulia, sabar, dan rida dengan ketetapan Ilahi, kami memiliki permintaan ini kepada Presiden
dan Pemerintah: Mundurlah dari kesalahan yang disebut sebagai kerangka kerja kesepakatan ini; sebuah kesepakatan yang menyebabkan pengabaian kedaulatan Lebanon dan wilayah selatan, serta menghalangi kembalinya warga ke kota dan desa mereka.”

Mengenai ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Iran, Jashi menyatakan bahwa eskalasi baru Amerika bertujuan untuk memperbaiki kondisi negosiasi mereka; karena Amerika tidak memiliki kesempatan untuk memulai perang besar yang baru. Meskipun mereka mencoba, keteguhan posisi Iran akan mencegah tercapainya tujuan mereka.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *