New York Times: Nota Kesepahaman Iran-AS Akui Peran Teheran dalam Pengelolaan Selat Hormuz
POROS PERLAWANAN — Harian Amerika Serikat The New York Times melaporkan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat secara efektif mengakui peran Iran dalam pengelolaan Selat Hormuz. Menurut laporan tersebut, kesepakatan yang dipuji Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pembukaan kembali jalur pelayaran itu justru dipandang sejumlah pengamat sebagai pengakuan terhadap posisi Iran dalam mengatur lalu lintas di perairan strategis tersebut.
Menurut laporan yang dikutip Kantor Berita Fars pada Senin (13/7/2026), Trump menyambut nota kesepahaman tersebut sebagai keberhasilan membuka kembali Selat Hormuz. Melalui media sosial, Trump menulis, “Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak kembali mengalir.”
Namun, The New York Times menulis bahwa sejumlah pengkritik menilai kesepakatan tersebut pada dasarnya meresmikan situasi yang sejak awal telah ditegaskan para pejabat Iran selama konflik berlangsung, yakni bahwa Iran kini menjalankan kontrol atas Selat Hormuz.
Laporan tersebut menyebut Angkatan Bersenjata Iran mulai menerapkan kontrol atas Selat Hormuz segera setelah dimulainya serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Beberapa pekan setelah Iran dan Amerika Serikat memasuki gencatan senjata tidak resmi pada awal April, sejumlah kapal tanker dilaporkan mencoba melintasi selat tanpa berkoordinasi dengan Iran. Langkah itu memicu respons Teheran yang kembali menegaskan hak kedaulatannya atas jalur pelayaran tersebut dengan merujuk pada ketentuan dalam nota kesepahaman.
Fars melaporkan ketegangan kembali meningkat setelah Trump memerintahkan serangan udara terhadap Iran. Sebagai respons, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC Navy) mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan intervensinya di kawasan.
The New York Times juga mengutip sejumlah mantan pejabat dan analis Amerika Serikat yang menilai perkembangan tersebut merupakan konsekuensi yang dapat diperkirakan dari nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada Juni 2026.
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Arab Saudi, Michael Ratney, mengatakan tidak ada alasan untuk terkejut apabila Iran menafsirkan kesepakatan tersebut sebagai pemberian peran yang berkelanjutan dalam mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, posisi tersebut memberikan pengaruh strategis yang signifikan bagi Teheran.
Laporan itu juga menyoroti Pasal 5 dalam nota kesepahaman yang menyatakan Iran akan mengupayakan pengaturan pelayaran yang aman bagi kapal-kapal niaga di Selat Hormuz.
Pada bagian akhir pasal tersebut disebutkan bahwa Iran dan Oman akan membahas tata kelola serta layanan maritim di Selat Hormuz sesuai hukum internasional dan hak-hak kedaulatan negara-negara pesisir, dengan melibatkan negara-negara lain di kawasan Teluk Persia.
Mantan negosiator Timur Tengah Amerika Serikat, Dennis Ross, menilai pandangan Iran terhadap isi kesepakatan tersebut cukup jelas. Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz hanya dapat berlangsung dalam kerangka yang menempatkan Iran sebagai pihak yang memegang kendali atas pengelolaan jalur pelayaran tersebut.
The New York Times juga melaporkan bahwa persaingan antara Iran dan Amerika Serikat dalam mempertahankan pengaruh di Selat Hormuz meningkatkan ketidakpastian bagi perusahaan-perusahaan pelayaran internasional. Di tengah meningkatnya kembali ketegangan, sejumlah operator kapal disebut memilih berlayar melalui jalur yang lebih dekat ke wilayah Iran dengan mengandalkan jaminan keamanan yang diberikan otoritas Iran.
Penilaian mengenai implikasi nota kesepahaman terhadap status Selat Hormuz dalam berita ini merupakan isi laporan The New York Times sebagaimana dikutip Kantor Berita Fars. Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah Iran maupun Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan bersama yang menjelaskan penafsiran resmi atas ketentuan tersebut.
