Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Analis AS: Konflik dengan Iran Ujian Terberat bagi Trump

POROS PERLAWANAN — Sejumlah analis keamanan dan mantan pejabat militer Amerika Serikat memperingatkan potensi konflik terbuka dengan Iran dapat berujung pada kerugian militer, guncangan ekonomi, serta dampak politik serius bagi Presiden Donald Trump. Penilaian tersebut muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah.

Mengutip Kayhan, Sabtu (21/2/2026), mantan perwira Pentagon Scott Ritter menyebut kapal induk AS berada dalam risiko tinggi jika terjadi perang langsung. “USS Abraham Lincoln bisa dihancurkan oleh Iran. Kita bisa kehilangan kapal sebelum mencapai pantai. Kapal induk berada dalam risiko. Korea Utara, Tiongkok, Rusia, dan Iran memiliki kemampuan menghancurkan kapal,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan David Pyne, mantan perwira Angkatan Darat AS dan analis strategi keamanan nasional. Dalam unggahannya di media sosial, Pyne menilai pengerahan tambahan kapal perang dan kekuatan udara ke Timur Tengah berpotensi memicu konflik besar. Menurutnya, jika tidak ada ancaman nuklir langsung, langkah militer tersebut dapat dipersepsikan sebagai perang agresif yang tidak memiliki dasar kuat.

Pyne juga memperingatkan potensi konsekuensi ekonomi dan politik di dalam negeri. Konflik berkepanjangan, menurutnya, dapat memicu korban jiwa dalam jumlah besar serta memengaruhi stabilitas harga energi global, termasuk kemungkinan lonjakan harga minyak jika Selat Hormuz terganggu.

Ia menambahkan Iran memiliki berbagai opsi respons militer. “Iran memiliki banyak pilihan untuk menyerang, termasuk menargetkan sekitar 50 pangkalan militer AS di kawasan maupun kelompok tempur kapal induk. Mereka memiliki rudal hipersonik yang sulit dicegat dan kemampuan siber ofensif yang signifikan,” tulisnya.

Mantan pejabat Departemen Pertahanan AS juga menyampaikan penilaian serupa terkait kemampuan rudal Iran. Pernyataan tersebut menyoroti risiko terhadap keamanan Israel serta potensi eskalasi regional.

Di sisi politik domestik, mantan penasihat strategi Trump, Steve Bannon, mengkritik kemungkinan keterlibatan dalam perang baru. Dalam sejumlah pernyataan publik, Bannon mempertanyakan konsistensi kebijakan luar negeri dengan agenda “America First” dan menilai perang besar dapat membebani ekonomi serta opini publik Amerika.

Sementara itu, mantan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Michael Oren memperingatkan risiko terhadap kapal perang AS. “Iran memiliki ribuan drone dan rudal. Satu saja yang menembus pertahanan dapat berdampak besar,” ujarnya.

Channel 12 Israel melaporkan mayoritas warga Amerika menentang perang dengan Iran. Berdasarkan rata-rata jajak pendapat terbaru, tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump berada pada kisaran 42 persen, sementara 55 persen menyatakan tidak puas. Intervensi militer di luar negeri disebut bukan prioritas utama publik.

Fox News melaporkan Iran mengerahkan drone dalam manuver yang disebut berlangsung bersamaan dengan latihan bersama Rusia di sekitar Selat Hormuz. Laporan tersebut menggambarkan langkah itu sebagai peningkatan ketegangan terukur.

Media Amerika Axios memperingatkan konflik dengan Iran dapat mendorong harga minyak hingga 130 dolar AS per barel, dengan dampak langsung pada harga bahan bakar domestik di Amerika Serikat.

Beragam peringatan tersebut mencerminkan kekhawatiran atas dampak militer, ekonomi, dan politik jika eskalasi antara Washington dan Teheran berkembang menjadi konflik terbuka.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *