Analisis Kayhan: Penembakan di Pantai Sydney Diduga Operasi Terencana Bikinan Mossad
POROS PERLAWANAN — Sehari setelah penembakan mematikan di Pantai Bondi, Sydney, insiden tersebut masih menjadi objek analisis intensif para pakar dan saksi mata. Sejumlah pengamat menilai peristiwa ini sarat kejanggalan. Dengan merujuk pada berbagai indikator yang dinilai signifikan, mereka menyimpulkan bahwa serangan tersebut kemungkinan merupakan operasi terencana yang melibatkan Badan Intelijen Israel, Mossad, guna mencapai tujuan-tujuan politik dan psikologis tertentu.
Pada Minggu 14 Desember, media internasional melaporkan terjadinya serangan bersenjata yang mereka sebut sebagai “aksi teror berdarah” terhadap perayaan Hanukkah komunitas Yahudi di Pantai Bondi, Sydney, Australia. Laporan awal menyebut sekitar 20 orang tewas, termasuk seorang Rabi Zionis terkemuka bernama Eli Schlanger, utusan gerakan Chabad, serta Ketua Dewan Yahudi Australia. Namun, pembaruan resmi kemudian menyatakan jumlah korban tewas sebanyak 16 orang, sementara jumlah korban luka mendekati 100 orang.
Beberapa jam setelah kejadian, otoritas mengumumkan identitas pelaku sebagai seorang ayah dan anak, Navid Akram dan Sajid Akram. Fakta yang segera menarik perhatian publik adalah ditemukannya bendera ISIS di dalam kendaraan yang mereka gunakan.
Laporan Kunci ABC Australia
Jaringan ABC Australia melaporkan bahwa Navid Akram merupakan sosok yang telah lama dikenal oleh Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO). Selama enam tahun terakhir, ASIO diketahui memantau Akram karena keterkaitannya dengan sebuah sel ISIS di Australia. Tim investigasi gabungan ASIO dan kepolisian Australia menyimpulkan bahwa kedua pelaku telah menyatakan baiat kepada ISIS sebelum melancarkan serangan. Temuan bendera ISIS di kendaraan mereka disebut sebagai penguat kesimpulan tersebut.
Laporan itu juga mengungkap bahwa pada 2019 ASIO mulai meningkatkan pengawasan terhadap Navid Akram karena hubungannya dengan Isaac El Matari, seorang individu yang mengeklaim diri sebagai “Komandan ISIS di Australia”. El Matari ditangkap pada tahun yang sama dan kini menjalani hukuman penjara tujuh tahun. Kepala ASIO secara terbuka mengonfirmasi bahwa Akram memang telah lama berada dalam radar Badan Intelijen tersebut.
ISIS dan Kepentingan Rezim Zionis
Dalam analisis para pengamat yang dikutip laporan ini, pandangan bahwa ISIS dan kelompok teroris Takfiri lainnya dibentuk dan dimanfaatkan oleh jaringan intelijen Amerika Serikat serta Rezim Zionis untuk menjaga keamanan strategis Israel tidak lagi dianggap kontroversial. Dukungan terhadap figur seperti Abu Muhammad al-Jolani di Suriah oleh Amerika Serikat, Turki, Israel, dan Inggris disebut sebagai salah satu bukti tambahan.
Dokumentasi pemindahan militan ISIS yang terluka ke rumah sakit di Wilayah Pendudukan Israel, serta kunjungan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu kepada mereka, juga telah beredar luas. Dengan demikian, jika ayah dan anak tersebut memang anggota ISIS, maka dalam kerangka analisis ini, mereka kembali berperan, secara langsung atau tidak langsung dalam melayani kepentingan Rezim Zionis.
Kekalahan Israel di Medan Opini Publik
Dalam perang Gaza, Israel dinilai mengalami kekalahan serius dalam pertarungan opini publik global. Tidak hanya di dunia Islam, tetapi juga di Eropa dan Amerika Serikat, Rezim ini menghadapi kecaman luas atas pembunuhan lebih dari 70.000 warga Palestina, termasuk sekitar 25.000 anak-anak dan bayi.
Secara historis, Israel kerap menggunakan strategi “viktimisasi” untuk meredam tekanan internasional. Pola ini kembali terlihat pasca-Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober, ketika Israel berupaya menampilkan diri sebagai pihak yang diserang. Namun, eskalasi brutal di Gaza dengan cepat membalik persepsi global dan kembali menempatkan Israel sebagai pelaku agresi.
Dalam konteks ini, serangan terhadap komunitas Yahudi di Sydney, bersamaan dengan respons politik dan framing media Israel dinilai berpotensi menjadi bagian dari strategi pencitraan ulang, khususnya untuk audiens Eropa dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Israel dilaporkan telah mengalokasikan dana jutaan Dolar untuk “memulihkan citra” internasionalnya pascaperang Gaza.
Dugaan Operasi “Bendera Palsu”
Analis politik dan pembawa acara asal Amerika Serikat, Jimmy Dore, termasuk pihak yang secara terbuka menyatakan bahwa Israel berada di balik penembakan ini. Menurutnya, Israel tengah merancang operasi bendera palsu dan berupaya menisbatkannya kepada Hamas, setelah kehilangan kendali atas narasi dominan dan kalah dalam perang opini publik di Eropa.
Senada dengan itu, pakar isu Palestina–Israel, Ali al-A‘war menilai bahwa serangan tersebut secara fungsional menguntungkan Israel. Mengutip laporan Quds Press, ia menyebut media-media berbahasa Ibrani dengan cepat membingkai insiden ini sebagai bentuk “anti-Semitisme”, guna menampilkan Israel sebagai korban sekaligus mengalihkan perhatian dari kejahatan mereka di Gaza.
Surat kabar Maariv, Yedioth Ahronoth, dan Haaretz secara serempak menyoroti kematian warga Yahudi di Sydney melalui pendekatan simbolik dan keamanan, sebuah pola pemberitaan yang dinilai tidak terlepas dari kepentingan politik Zionis.
Kejanggalan Keamanan dan Respons Polisi
Sejumlah jurnalis dan saksi mata menyoroti kegagalan aparat keamanan Australia. Meski Israel sebelumnya mengeluarkan peringatan keamanan bagi komunitas Yahudi di berbagai negara, di Sydney kedua pelaku disebut dapat melakukan penembakan selama sekitar sembilan menit tanpa intervensi signifikan dari aparat kepolisian.
Seorang analis Channel 13 Israel menyebut insiden ini sebagai kegagalan keamanan serius, mengingat sekitar 1.000 orang berada di lokasi saat kejadian. Seorang penyintas bahkan menyatakan bahwa empat petugas polisi berada di tempat kejadian, namun tidak melakukan tindakan apa pun, meskipun pelaku terus mengganti magazen dan menembak.
Pola Historis dan Migrasi Terbalik
Dalam konteks yang lebih luas, perang di Gaza, Lebanon, serta Perang 12 Hari yang dipaksakan Israel terhadap Iran telah memicu gelombang migrasi balik terbesar dari Wilayah Pendudukan Israel. Sejumlah analis berpendapat bahwa insiden seperti penembakan Sydney dapat dimanfaatkan untuk menciptakan rasa tidak aman di negara-negara tujuan diaspora Yahudi, sehingga mendorong mereka kembali ke Israel.
Sejarah, menurut para pengamat ini, menunjukkan pola serupa. Filsuf Prancis, Roger Garaudy dalam bukunya “Mitos-Mitos Pendiri Politik Israel” mengemukakan dokumen yang menunjukkan keterlibatan sejumlah Zionis dengan kelompok terkait Nazi Jerman untuk menciptakan teror di kalangan Yahudi Eropa, demi mendorong migrasi ke Palestina yang Diduduki.
Peristiwa ledakan kapal Patria pada 1940, yang mengangkut pengungsi Yahudi Eropa sebelum mencapai Haifa, juga kerap dikutip dalam konteks ini. Pernyataan terbaru Jurnalis Zionis, Ben Caspit memperkuat narasi tersebut, ketika ia secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap meningkatnya anti-Semitisme global agar seluruh Yahudi “melarikan diri ke Israel”.
