Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Analisis Redaktur Kayhan: Wacana Gencatan Senjata Bisa Jadi Celah Musuh

POROS PERLAWANAN – Redaktur Koran Kayhan, Hossein Shariatmadari memperingatkan risiko politik dan strategis dari munculnya wacana gencatan senjata di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Dalam analisis yang diterbitkan Fars News Agency pada Jumat 3 April dengan judul “Lotfan sukut ra ra’ayat farma’id!” atau “Harap jaga ketenangan”, dia menilai setiap sinyal kompromi yang muncul di ruang publik dapat dimanfaatkan lawan untuk menutupi kegagalan di lapangan sekaligus menyiapkan serangan lanjutan.

Shariatmadari membuka tulisannya dengan mengutip pesan Imam Ali. “Waspadalah, sungguh waspadalah terhadap musuhmu setelah perdamaian dengannya, karena musuh terkadang mendekat untuk membuatmu lengah.” Peringatan itu dinilai relevan dalam konteks konflik saat ini, terutama ketika Iran berhadapan dengan Amerika Serikat dan Israel, dua pihak yang dalam pandangannya berulang kali menunjukkan ketidakpatuhan terhadap komitmen dan garis pembatas yang mereka nyatakan sendiri.

Dia menilai setiap upaya terbuka maupun tertutup yang mengarah pada dorongan gencatan senjata harus dibaca dengan sangat hati-hati. Langkah semacam itu, tulisnya, setidaknya memuat dua pesan utama, yakni pengakuan atas kegagalan di lapangan dan kebutuhan mendesak untuk memulihkan kekuatan sebelum melancarkan serangan berikutnya. Pengalaman Perang 12 Hari disebut sebagai pelajaran yang semestinya cukup untuk mencegah kesalahan serupa terulang.

Dari situ, Ketua Redaksi Kayhan itu menyoroti pentingnya disiplin dalam pernyataan publik. Dalam pandangannya, pihak lawan sangat membutuhkan setiap ucapan yang dapat ditafsirkan sebagai penerimaan terhadap gencatan senjata, bahkan jika lahir dari kekeliruan, ketidaksengajaan, atau salah pilih kata. Ucapan semacam itu dapat dipakai untuk menutupi kegagalan sendiri sekaligus membangun pembenaran politik atas tindakan militer mereka di hadapan publik pendukungnya.

Karena itu, pembicaraan mengenai gencatan senjata dipandang bukan sebagai isu netral, melainkan sesuatu yang membuka ruang bagi kepentingan lawan. Dia juga menyinggung kemungkinan adanya pejabat yang tidak bermaksud menyampaikan sinyal politik tertentu, tetapi justru melontarkan pernyataan yang memberi ruang tafsir bagi pihak lawan. Dalam situasi seperti itu, klarifikasi dinilai penting agar narasi tersebut tidak dipakai sebagai alat propaganda.

Dia lalu merujuk pada contoh terbaru yang disebutnya sebagai kekeliruan ucapan dari seorang pejabat senior Iran. Pernyataan itu sempat dimanfaatkan oleh pihak lawan sebelum akhirnya dikoreksi dan dibantah secara tegas. Namun, yang dianggap lebih problematis adalah adanya pihak-pihak di sekitar pejabat tersebut yang justru berusaha mempertahankan arah tafsir yang keliru. Dalam nada sindiran tajam, dia menulis: “Harap jaga ketenangan!” Kalimat itu diarahkan kepada mereka yang dinilai tidak memahami sensitivitas situasi perang dan justru memperberat beban narasi di tengah konflik.

Di bagian lain, Shariatmadari menyoroti kontroversi surat yang disebut diajukan petinggi Universitas Teheran kepada Menteri Sains Iran atas nama 15 rektor universitas. Surat itu meminta agar Angkatan Bersenjata Iran tidak melakukan pembalasan setimpal atas serangan musuh terhadap universitas dan pusat ilmiah. Permintaan tersebut, dalam analisisnya, tidak dapat dipisahkan dari konteks perang karena berpotensi memberi keuntungan strategis kepada pihak lawan.

Dia mencatat, setelah gelombang kritik dari kalangan dosen dan masyarakat menguat, pernyataan tersebut akhirnya dihapus dari situs universitas. Meski demikian, polemik itu tetap menyisakan pertanyaan serius tentang cara sebagian kalangan akademik membaca situasi konflik dan memahami konsekuensi dari posisi yang mereka ambil di ruang publik.

Melalui tulisannya, Shariatmadari menegaskan satu hal. Dalam situasi perang terbuka, pertempuran tidak hanya berlangsung di garis depan, tetapi juga di ruang bahasa, persepsi, dan penafsiran. Dalam konteks itu, setiap kata, sinyal, dan pernyataan publik menjadi bagian dari pertahanan strategis, bukan opini yang bebas dari akibat politik.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *