Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

AS Konfirmasi Pembicaraan Langsung dengan Hamas Terkait Sandera di Gaza

POROS PERLAWANAN – Amerika Serikat mengonfirmasi telah mengadakan pembicaraan langsung dengan Hamas dalam upaya menyelamatkan sandera yang masih ditahan di Gaza, sekaligus membahas negosiasi gencatan senjata antara Kelompok Perlawanan Palestina dan Israel yang masih menemui jalan buntu.

“Pembicaraan ini masih berlangsung, dan saya tidak akan memberikan detail lebih lanjut karena ada nyawa warga Amerika yang dipertaruhkan,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Rabu 6 Maret. Pernyataan ini menguatkan laporan media Axios yang menyebutkan adanya dialog langsung antara Washington dan Hamas.

Leavitt menegaskan bahwa Pemerintahan Presiden Donald Trump akan melakukan segala upaya diplomatik yang diperlukan untuk melindungi kepentingan warga negara AS. “Berdialog dengan pihak-pihak di seluruh dunia demi kepentingan terbaik rakyat Amerika adalah prinsip yang dijunjung tinggi oleh Presiden,” tambahnya.

Menurut sumber yang terlibat dalam perundingan, Adam Boehler—yang sebelumnya ditunjuk sebagai Utusan Khusus untuk Urusan Sandera oleh Presiden Donald Trump—ikut serta dalam pembicaraan tersebut.

Fokus Negosiasi: Sandera dan Prospek Gencatan Senjata

Seorang pejabat Hamas yang dikutip oleh kantor berita AFP mengonfirmasi bahwa pembicaraan ini mencakup negosiasi mengenai sandera Israel-Amerika yang masih ditahan di Gaza.

Sebelumnya, AS secara terbuka menolak berkomunikasi langsung dengan Hamas sejak Kelompok Perlawanan tersebut dimasukkan dalam daftar organisasi teroris pada 1997. Namun, dalam situasi saat ini, Washington mengambil pendekatan yang lebih fleksibel untuk menyelamatkan sandera.

Pemerintah Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah diajak berkonsultasi oleh AS terkait pembicaraan tersebut. Berdasarkan data otoritas Israel, sekitar 24 sandera yang masih hidup—termasuk seorang warga negara Amerika bernama Edan Alexander—serta jenazah sedikitnya 35 orang lainnya, diyakini masih berada di Gaza.

Jurnalis Al Jazeera, Hamdah Salhut melaporkan dari Yordania bahwa pembicaraan tersebut bertujuan untuk mengamankan pemulangan jenazah beberapa sandera Israel-Amerika yang masih berada di Gaza serta satu sandera Israel berkewarganegaraan AS yang diyakini masih hidup.

“Pihak Amerika menyatakan bahwa utusan mereka memiliki kewenangan untuk bernegosiasi dengan siapa pun, dan pembicaraan ini tidak hanya terkait dengan sandera berkewarganegaraan AS, tetapi juga mencakup upaya mengakhiri konflik yang sedang berlangsung,” jelas Salhut.

Gencatan Senjata dalam Ketidakpastian

Konfirmasi atas pembicaraan ini muncul beberapa hari setelah fase pertama gencatan senjata antara Israel dan Hamas berakhir. Israel mengupayakan perpanjangan gencatan senjata, sementara Hamas bersikeras untuk melanjutkan ke fase kedua dari kesepakatan yang telah dicapai pada Januari lalu.

Pada tahap pertama, Hamas membebaskan 33 sandera sebagai imbalan atas pembebasan lebih dari 2.000 tahanan Palestina oleh Israel.

Menurut pejabat Israel, proposal untuk memperpanjang fase pertama gencatan senjata disusun oleh utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Rencana baru ini mengharuskan Hamas untuk membebaskan setengah dari sisa sandera mereka sebagai imbalan atas perpanjangan gencatan senjata dan janji untuk bernegosiasi menuju perdamaian yang lebih permanen.

Namun, tidak seperti fase pertama, dalam proposal ini Israel tidak menyebutkan kemungkinan pembebasan tambahan tahanan Palestina—yang sebelumnya menjadi salah satu syarat utama Hamas dalam negosiasi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *