Israel Kerahkan Lebih dari 3.000 Personel Militer di Yerusalem
POROS PERLAWANAN – Radio Militer Israel melaporkan bahwa otoritas keamanan Zionis telah mengerahkan ribuan personel di Yerusalem sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan aksi protes besar-besaran oleh umat Muslim pada Jumat pertama bulan suci Ramadan.
Menurut laporan tersebut, kepolisian Israel berencana menerapkan langkah-langkah pengamanan ketat di Yerusalem guna mencegah aksi demonstrasi yang mungkin digelar oleh jemaah Palestina usai salat Jumat. Sebagai bagian dari strategi ini, sekitar 3.000 anggota kepolisian dan pasukan penjaga perbatasan dikerahkan untuk menghalangi potensi unjuk rasa di sekitar Masjid Al-Aqsa.
Kebijakan ini diberlakukan di tengah meningkatnya ketegangan, menyusul kehadiran lebih dari 80.000 warga Palestina di Masjid Al-Aqsa pada Rabu malam 5 Maret, meskipun terdapat berbagai pembatasan yang diterapkan oleh otoritas Israel. Jemaah tetap berdatangan dan melaksanakan salat Isya serta Tarawih, sebagaimana malam-malam sebelumnya.
Menjelang Jumat pertama Ramadan, seruan masyarakat untuk melakukan mobilisasi massal menuju Masjid Al-Aqsa semakin meningkat. Ajakan ini menekankan pentingnya kehadiran berkelanjutan di kompleks masjid guna menentang blokade yang diberlakukan oleh Israel.
Para penggagas seruan tersebut menekankan bahwa kehadiran besar-besaran umat Muslim di Masjid Al-Aqsa, meskipun dihadapkan pada pembatasan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak 7 Oktober 2023, dapat menjadi faktor penentu dalam upaya mengubah dinamika yang ada. Mereka menekankan bahwa mobilisasi ini harus berlangsung secara konsisten dan penuh ketahanan.
Seiring datangnya bulan Ramadan, Israel semakin memperketat pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa. Saat ini, hanya penduduk Yerusalem yang diperbolehkan memasuki area masjid. Penduduk Tepi Barat dan Wilayah Pendudukan 1948 dilarang masuk untuk beribadah. Sebagai respons, umat Muslim dari wilayah-wilayah tersebut tetap melaksanakan salat berjamaah di jalan-jalan sekitar Masjid Al-Aqsa, meskipun berada di bawah pengawasan ketat aparat keamanan Israel.
Pada Jumat pertama Ramadan besok, diperkirakan akan terjadi demonstrasi besar di Yerusalem sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pembatasan Israel serta upaya mempertahankan hak umat Muslim atas kota suci tersebut.
