Ben-Gvir dan Smotrich Tolak Gencatan Senjata Gaza, Netanyahu Terjepit di Tengah Tekanan Politik
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir dilaporkan tengah berupaya menggalang dukungan dari Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich untuk menolak kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang juga mencakup pembebasan tawanan. Langkah ini menambah tekanan terhadap Perdana Menteri Benyamin Netanyahu di tengah meningkatnya perpecahan dalam koalisi pemerintahan dan dukungan dari oposisi terhadap kesepakatan tersebut.
Menurut laporan media Israel N12 pada Rabu 2 Juli, Ben-Gvir dari partai sayap kanan Otzma Yehudit meminta pemimpin partai Zionisme Religius, Smotrich, untuk bersatu menentang proposal yang dilaporkan mencakup gencatan senjata selama 60 hari dan pembebasan tawanan Israel di Gaza. Meski demikian, pihak dekat Smotrich membantah adanya pendekatan atau pertemuan resmi antara keduanya. “Ini bukan saatnya untuk permainan media,” ujar sumber internal, menekankan bahwa Smotrich tengah fokus pada isu Gaza secara serius.
Baik Ben-Gvir maupun Smotrich selama ini konsisten menolak kesepakatan yang dianggap melemahkan upaya Militer Israel melawan Hamas. Mereka menilai kemenangan total di Gaza lebih penting daripada kompromi jangka pendek. Ben-Gvir bahkan menyatakan bahwa gencatan senjata hanya akan memperkuat musuh dan membuka kemungkinan lebih banyak sandera di masa depan.
Sementara itu, Ketua Partai Yesh Atid sekaligus pemimpin oposisi, Yair Lapid menawarkan dukungan parlemen kepada Netanyahu. “Lawanlah tekanan Ben-Gvir dan Smotrich, kami akan menjadi jaring pengaman politik Anda untuk kesepakatan ini,” kata Lapid.
Dukungan serupa juga disuarakan oleh Menteri Luar Negeri, Gideon Sa’ar, yang menyatakan bahwa mayoritas rakyat dan pemerintahan mendukung pembebasan sandera jika peluang itu ada.
Di sisi lain, ketegangan memuncak saat Ben-Gvir dan Smotrich menyerang Kepala Staf IOF, Eyal Zamir, yang memperingatkan bahwa operasi militer besar bisa membahayakan keselamatan sandera. Smotrich bahkan mengusulkan pendirian zona permukiman baru di Gaza selatan dan relokasi warga Israel ke wilayah tersebut.
Ketegangan internal ini mencerminkan krisis kepemimpinan Israel yang semakin dalam, di tengah stagnasi negosiasi dan kegagalan militer membebaskan sandera secara paksa. Meski serangan militer terus berlangsung, kontrol penuh atas Gaza masih jauh dari jangkauan, sementara pejuang Palestina terus melancarkan perlawanan yang efektif terhadap pasukan Pendudukan.
