Sekjen PBB: Jalan Terakhir untuk Melarikan Diri dari Gaza Sudah Tertutup
POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, kembali mengeluarkan peringatan keras terkait krisis kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza. Ia menyatakan bahwa jalur terakhir bagi warga sipil untuk melarikan diri dari wilayah tersebut kini sedang ditutup, sementara akses bantuan kemanusiaan terus dihalangi oleh Israel.
Mengutip pernyataan Guterres di platform X (sebelumnya Twitter), pada Kamis 3 Juli, bahwa tanpa pasokan bahan bakar yang segera, sistem-sistem vital di Gaza akan lumpuh total.
“Tanpa kedatangan bahan bakar secepatnya, laboratorium akan berhenti beroperasi, ambulans tidak dapat mengangkut korban luka maupun pasien, dan air tidak dapat dimurnikan”, tulis Guterres.
Ia menegaskan bahwa PBB siap dan memiliki kapasitas untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, tetapi misi tersebut membutuhkan akses yang aman dan berskala besar. Guterres juga menyindir bahwa upaya kemanusiaan PBB tidak dapat berjalan jika dihambat oleh blokade atau manuver politik yang tidak berpihak pada kemanusiaan.
Di sisi lain, Israel terus memblokir masuknya sebagian besar bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza. Sebagai gantinya, Tel Aviv disebut mendorong skema distribusi alternatif melalui aktor non-PBB, salah satunya adalah Yayasan Kemanusiaan Gaza yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Israel sendiri.
Namun skema ini justru menuai kritik keras, menyusul laporan bahwa ratusan warga Palestina tewas saat mencoba memperoleh makanan di titik-titik distribusi bantuan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Kekacauan di lapangan serta minimnya koordinasi dianggap memperparah penderitaan sipil.
Krisis di Gaza terus memburuk sejak awal agresi militer Israel, dengan blokade total terhadap bahan bakar, air bersih, dan pasokan medis. Komunitas internasional semakin mendesak gencatan senjata dan pemulihan jalur distribusi bantuan yang adil serta aman di bawah koordinasi penuh PBB.
