Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Dengan Sengaja ‘Meledakkan’ Bom di Nashville, Apakah Trump Sudah Putuskan ‘Membakar’ AS?

Dengan Sengaja 'Meledakkan' Bom di Nashville, Apakah Trump Sudah Putuskan 'Membakar' AS?

POROS PERLAWANAN – Ledakan yang terjadi di Nashville pada Jumat 25 Desember lalu, yang disebut pihak kepolisian sebagai “aksi disengaja”, menunjukkan bahwa peringatan yang dilayangkan jurnalis AS, Thomas Friedman saat debat antara Donald Trump dan Joe Biden, patut dicamkan.

Dilansir al-Alam, Friedman memperingatkan bahwa demokrasi di AS terancam oleh bahaya yang lebih besar dari situasi AS saat Perang Saudara, serangan Jepang ke Pearl Harbour, atau krisis rudal-rudal Kuba pada tahun 1962 silam.

Faktor yang mendorong Friedman melayangkan peringatan ini adalah sikap Trump bahwa dia harus terpilih kembali sebagai Presiden AS, atau klaim bahwa pemungutan suara lewat pos tidak sah, yang akan mendorongnya memicu kekacauan. Padahal, pemungutan suara via pos adalah metode lama yang sudah sering digunakan dalam Pilpres AS, bahkan Trump sendiri terpilih melalui cara ini.

Ledakan mobil yang dipasangi bom di Nashiville dan adanya laporan soal keberadaan beberapa mobil lain yang dicurigai telah dipasangi bahan peledak, juga statemen Jubir Polisi Nashville tentang unsur kesengajaan dalam ledakan tersebut, menunjukkan bahwa ada sebagian pihak yang memberikan alasan kepada Trump untuk mengumumkan situasi luar biasa di AS.

Mantan Wakil Direktur FBI, Andrew McCabe dalam wawancara dengan CNN mengatakan, ”Ledakan ini disebabkan sebuah bom besar. Ledakan sebesar ini akan diselidiki sebagai sebuah aksi teroris.”

“Polisi adalah kemungkinan target ledakan ini, sebab mobil itu meledak saat polisi hendak meminta surat-surat dari pengemudi mobil mencurigakan itu,” imbuhnya.

Insiden ini membuat warga AS khawatir bahwa kelompok-kelompok radikal sayap kanan pendukung Trump akan memicu aksi kekerasan. Terlebih Trump telah mengundang mereka untuk turun ke jalanan, demi merebut “kemenangan yang dicuri Demokrat darinya”.

Menurut majalah AS, Foreign Affairs, Trump selama masa kekuasaannya telah menyatakan solidaritasnya untuk kelompok-kelompok rasis kulit putih, terutama yang bersenjata, secara terbuka melebihi para presiden AS sebelumnya.

Kelompok-kelompok radikal sayap kanan bersenjata, seperti Pride Boys, Bugaloo, dan Ku Klux Klan meyakini bahwa Trump sepaham dengan mereka soal rasisme.

Sebab itu, mereka menganggap Trump sebagai Jubir dan penyelamat mereka. Mereka juga merasa bertanggung jawab untuk membela Trump dari orang-orang yang ingin menggulingkannya. Terlepas dari hasil Pilpres, mereka berusaha mempertahankan Trump di Gedung Putih, bahkan meski dengan kekerasan.

Hubungan Trump dengan kelompok-kelompok radikal ini terungkap setelah mereka menjalankan instruksi-instruksinya.

Ketika Gubernur Negara Bagian Michigan menerapkan lockdown di masa pandemi, Trump meminta kelompok-kelompok bersenjata untuk “membebaskan Michigan”.

Para milisi bersenjata ini pun langsung turun ke jalanan Ibu Kota Negara Bagian Michigan. Beberapa hari kemudian, FBI mengungkap upaya penculikan Gubernur dan penggulingan pemerintahan Michigan serta menahan 13 orang tertuduh.

Ledakan di Nashville terjadi akibat pengaruh statemen Trump kepada para pendukung radikalnya untuk “menutupi kekalahan ikon mereka”; ikon yang telah memberikan ruang signifikan bagi mereka di AS.

Banyak pengamat berpendapat, sangat sulit untuk mengubah situasi yang sudah terjadi sekarang, sebab dari bukti-bukti yang ada, Trump sudah memutuskan untuk “membakar” AS.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *