Donald Trump Cabut Sanksi terhadap Suriah
POROS PERLAWANAN – Dalam langkah mengejutkan yang menandai perubahan haluan kebijakan Washington di Kawasan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pencabutan sanksi terhadap Suriah. Langkah ini dikaitkan erat dengan pertemuan diplomatik intensif antara pejabat tinggi AS dan rezim baru Suriah yang digelar di Turki.
Mengutip kantor berita Anadolu Agency pada Jumat 16 Mei, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bertemu secara resmi dengan mitranya dari Suriah, Asad Hassan al-Shaibani, di tanah Turki. Pertemuan ini menjadi babak awal dari “normalisasi hubungan” antara Washington dan rezim yang sebelumnya dicap sebagai “teroris” oleh AS itu.
Langkah ini menyusul pertemuan antara Presiden Trump dan Ahmed al-Sharaa, di Riyadh, Arab Saudi Selasa lalu.
Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Rubio menyampaikan pendekatan baru Washington terhadap Damaskus, termasuk kesiapan untuk “mengurangi tekanan sanksi” sebagai bagian dari upaya membangun stabilitas jangka panjang di Suriah.
Lebih jauh, Rubio menyampaikan dukungan terhadap upaya Pemerintahan Jolani dalam menjalin hubungan damai dengan Israel dan “mengurangi pengaruh Iran di Suriah”. Ia juga menuntut transparansi terkait nasib warga negara AS yang hilang atau tewas di wilayah Suriah, serta mendesak diakhirinya penggunaan senjata kimia oleh rezim.
Dalam pernyataan resminya, Rubio menyatakan: “Hak asasi manusia bagi seluruh kelompok etnis dan agama di Suriah adalah prinsip dasar yang tak dapat dinegosiasikan dalam proses normalisasi ini.”
Sementara itu, dalam pidatonya di Konferensi Investasi Arab Saudi, Presiden Trump secara terbuka menyatakan pencabutan sanksi terhadap Damaskus sebagai bagian dari “visi rekonstruksi Timur Tengah”.
“Keputusan ini kami ambil setelah konsultasi dengan para pemimpin Turki dan Arab Saudi. Tujuannya jelas: menciptakan kondisi agar Suriah bisa bangkit kembali dan menjadi bagian dari komunitas internasional,” ujar Trump.
Dalam konteks yang lebih luas, Trump juga menyerukan kepada rezim pemberontak Suriah agar bergabung dengan perjanjian perdamaian regional, termasuk Abraham Accords, dan mengambil peran aktif dalam penyelesaian krisis pengungsi Palestina yang masih terjebak di kamp-kamp pengungsian di Suriah.
