Perwakilan Israel dan Rezim Pemberontak Suriah Bertemu di Baku
POROS PERLAWANAN – Setelah pertemuan antara Abu Muhammad al-Jolani dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) dan Donald Trump di Riyadh pada Selasa lalu, perwakilan dari rezim pemberontak Suriah dan otoritas Israel dilaporkan telah mengadakan pertemuan rahasia di Baku, Ibu Kota Republik Azerbaijan.
Mengutip laporan situs berita Israel Ynet pada Jumat 16 Mei, disebutkan bahwa Israel telah membuka jalur diplomatik tertutup dengan Pemerintahan Jolani, Pemimpin kelompok pemberontak Suriah yang kini dianggap sebagai wajah baru oposisi Damaskus.
Menurut laporan tersebut: “Di tengah perubahan dinamika aliansi regional, dan menyusul pernyataan dukungan Amerika Serikat terhadap Pemerintahan baru Suriah, pejabat tinggi militer Israel dan Dewan Keamanan Nasional telah bertemu dengan pejabat rezim Suriah di Baku, sebagai bagian dari negosiasi yang lebih luas dengan Turki mengenai isu Suriah”.
Ynet juga menulis bahwa setelah kehilangan dukungan dari Jolani dan Pemerintahan Trump di Arab Saudi, Israel mulai merevisi pendekatannya terhadap rezim baru Suriah, melunakkan retorika mereka terhadap Damaskus, dan membuka ruang komunikasi terbatas.
Pekan lalu, Kepala Departemen Operasi Militer Israel, Oded Basyuk, disebut telah bertemu langsung dengan pejabat tinggi Pemerintahan Jolani di Baku. Pertemuan itu juga dihadiri oleh anggota Dewan Keamanan Nasional Israel, sebagai bagian dari rangkaian pembicaraan diplomatik Israel-Turki yang semakin intensif.
Dalam pertemuan sebelumnya bersama pejabat Turki, Israel bahkan mengutus delegasi tingkat tinggi yang melibatkan Ketua Dewan Keamanan Nasional, Tzachi Hanegbi—menandai pentingnya pembicaraan tersebut dalam kalkulasi geopolitik Tel Aviv.
Masih menurut Ynet: “Meski awalnya ragu, para pejabat Israel kini menilai keputusan Presiden Trump untuk mencabut sebagian sanksi terhadap Suriah sebagai sinyal positif. Mereka memandangnya sebagai peluang strategis untuk menjauhkan Suriah dari pengaruh Iran—dan di masa depan, mungkin membuka jalan bagi Suriah untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham, jika negara itu mencapai stabilitas yang memadai”.
Pertemuan ini berlangsung di tengah situasi genting di Suriah selatan, khususnya di provinsi Daraa dan Quneitra yang masih berada di bawah pendudukan Militer Israel sejak jatuhnya kekuasaan Presiden Bashar al-Assad. Hingga kini, rezim Jolani belum mengambil langkah signifikan untuk menentang keberadaan Militer Israel di wilayah tersebut.
Sementara itu, serangan udara Israel ke wilayah Suriah juga terus berlanjut secara rutin, bahkan dalam intensitas harian. Dalam pekan terakhir, serangan udara dilaporkan menghantam sebuah lokasi di dekat kompleks Istana Kepresidenan di Damaskus.
Masih dari laporan Ynet, pembicaraan antara rezim Jolani dan Tel Aviv dipahami sebagai kelanjutan dari koordinasi teknis antara Israel dan Turki yang dimulai sejak April lalu. Pada 10 April, Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan bahwa pertemuan teknis pertama antara Ankara dan Tel Aviv telah berlangsung di Baku, dengan agenda utama membentuk mekanisme pencegahan konflik antara kedua negara di wilayah Suriah.
Di sisi lain, jaringan televisi Israel Channel 13 mengungkap rincian tambahan dari negosiasi tersebut. Mengutip sumber internal, mereka melaporkan bahwa Israel dan Turki tengah membahas pembagian zona pengaruh mereka di Suriah, mencerminkan kontestasi geopolitik yang kian terbuka di tubuh negara yang hancur akibat perang itu.
Menanggapi dinamika tersebut, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan menyatakan bahwa Ankara “tidak tertarik untuk berkonflik atau berhadapan langsung dengan Israel”.
