[EDITORIAL] Menuju De-eskalasi dan Kegagalan Strategi AS–Israel dalam Perang Melawan Iran
POROS PERLAWANAN – Memasuki minggu keempat perang yang dipaksakan oleh AS-Israel terhadap Iran, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pihak agresor mulai tampak kebingungan mencari-cari cara yang paling tepat untuk keluar dari medan pertempuran tanpa harus terlalu kehilangan muka dan dicap pecundang.
Di tengah gelombang serangan balasan Iran yang saat ini sudah memasuki fase ke-82, perang yang dipicu AS-Israel ini tidak dapat disebut baru kehilangan arah di tengah jalan, melainkan sejak awal memang sudah berada pada jalur yang keliru.
Ketika Presiden Donald Trump menjanjikan operasi militer singkat dalam hitungan hari, asumsi yang digunakan terlihat sederhana, yakni tekanan cepat akan memaksa Iran mundur. Empat minggu kemudian, asumsi tersebut runtuh, dan yang tersisa bukan hanya deviasi taktis, melainkan kegagalan dalam membaca struktur konflik.
Masalahnya bukan karena perang berjalan lebih lama dari rencana. Masalahnya terletak pada fondasi awal yang keliru dalam memahami karakter konflik.
Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global segera menjadi pusat gravitasi krisis. Ketika jalur ini terganggu, pasar tidak bereaksi secara bertahap, melainkan melonjak tajam. Harga minyak bergerak dari kisaran 70 Dolar ke atas 110 Dolar per barel, bahkan mendekati 120 Dolar.
Dampaknya bersifat sistemik. Dalam ekonomi global yang saling terhubung, kenaikan harga energi langsung merambat ke inflasi, rantai pasok, dan stabilitas fiskal. Kenaikan sekitar 10 persen harga minyak dapat mendorong inflasi global sekitar 0,2 poin persentase, angka yang tampak kecil tetapi berdampak signifikan terhadap kebijakan moneter.
Pada saat yang sama, biaya perang meningkat dengan cepat. Dalam minggu pertama saja, Amerika Serikat telah mengeluarkan lebih dari 11 miliar Dolar, dan angka tersebut terus bertambah seiring eskalasi.
Rangkaian perkembangan ini membentuk satu realitas yang sulit dihindari. Konflik ini bukan perang cepat, melainkan perang yang secara struktural mahal dan akan semakin mahal seiring waktu.
Analisis Dinamika Konflik AS–Israel Vs Iran
Dengan mencermati perkembangan situasi yang sangat dinamis di lapangan, terdapat kemungkinan bahwa eskalasi ketegangan akan mulai mereda dalam kurun waktu sekitar dua minggu ke depan. Proyeksi ini muncul bukan karena keberhasilan strategi, melainkan akibat akumulasi tekanan yang semakin sulit ditanggung.
Pada tahap ini, persoalan utama Washington bukan lagi Iran, melainkan ketidakjelasan tujuan strategisnya sendiri.
Trump berbicara mengenai de-eskalasi, namun pada saat yang sama mengeluarkan ultimatum 48 jam yang mengancam infrastruktur vital Iran. Hal ini bukan hanya inkonsistensi komunikasi, melainkan menunjukkan bahwa strategi telah kehilangan koherensi.
Tidak ada strategi yang dapat dianggap kredibel apabila mengeklaim ingin mengakhiri konflik sambil secara bersamaan meningkatkan tingkat eskalasi.
Situasi ini bukan mencerminkan dua jalur kebijakan, melainkan ketidakmampuan dalam menetapkan tujuan akhir.
Amerika Serikat kini berada di bawah tekanan simultan yang mencakup aspek militer, politik domestik, dan ekonomi. Tekanan tersebut secara struktural mempersempit ruang gerak dalam mempertahankan eskalasi jangka panjang.
Lonjakan harga energi, tekanan inflasi, serta gangguan rantai pasok menunjukkan bahwa bahkan negara dengan keunggulan energi tidak sepenuhnya terlindungi dari dampak guncangan global.
Akibatnya, kebijakan yang muncul tidak lagi mencerminkan perencanaan strategis yang matang, melainkan rangkaian improvisasi. Ancaman diperkuat, sementara opsi untuk mundur tetap dipertahankan.
Kondisi ini bukan bentuk fleksibilitas, melainkan indikasi keraguan strategis.
Iran dan Perubahan Medan Perang
Sementara Washington bergerak secara reaktif, Iran justru menggeser medan konflik ke arah yang lebih kompleks dan terfragmentasi.
Respons Teheran tidak berlangsung secara linier, tetapi menyebar melalui keterlibatan berbagai aktor non-negara di sejumlah kawasan penting. Di Afghanistan, jaringan yang diasosiasikan dengan Khorasan menjadi sumber instabilitas. Di Irak, kondisi keamanan yang rapuh membuka ruang bagi kelompok ekstremis seperti ISIS atau Daesh serta faksi bersenjata lainnya. Di perbatasan Pakistan, kelompok seperti Jaish al Adl menambah dimensi tekanan yang berbeda. Sementara itu, dinamika di kawasan Kaukasus termasuk Azerbaijan, serta aktivitas kelompok seperti ISIS dan Front al Nusra di Suriah, memperluas potensi limpahan konflik ke Irak dan Lebanon.
Rangkaian tersebut tidak hanya menunjukkan keberadaan berbagai aktor, tetapi juga membentuk pola konflik yang menyebar, saling terhubung, dan sulit dikendalikan secara penuh.
Pada titik ini, konflik tidak lagi dapat dipahami sebagai perang antarnegara dalam pengertian konvensional, melainkan sebagai perang sistem, di mana negara, aktor non-negara, jaringan ideologis, dan tekanan ekonomi global berinteraksi dalam satu ekosistem konflik yang cair dan sulit dipetakan.
Perubahan ini menggeser karakter perang secara fundamental. Garis depan menjadi kabur, aktor bertambah banyak, dan biaya strategis meningkat secara signifikan. Dalam kondisi seperti ini, keunggulan militer konvensional kehilangan sebagian efektivitas karena lawan tidak hadir dalam satu bentuk yang jelas.
Namun faktor paling menentukan justru berada di dalam negeri Iran.
Mobilisasi Basij menunjukkan bahwa Iran tidak hanya mempersiapkan pertahanan militer, tetapi juga membangun ketahanan sosial. Dengan doktrin mosaic defense, seluruh wilayah diposisikan sebagai ruang resistensi berlapis.
Implikasinya jelas. Invasi tidak hanya mahal, tetapi juga sangat sulit menghasilkan kontrol yang stabil.
Perang yang Terlalu Mahal untuk Dimenangkan
Pada tahap ini, paradoks strategis mencapai titik yang paling nyata.
Jika de-eskalasi terjadi, hal tersebut bukan karena salah satu pihak meraih kemenangan. Kondisi tersebut muncul karena biaya perang telah melampaui nilai strategis yang diharapkan.
Pandangan ini sejalan dengan analisis pakar hubungan internasional, John Mearsheimer. Dalam dialognya pada 11 Maret 2026, ia menilai bahwa Amerika Serikat pada dasarnya telah kehilangan perang ini bahkan sebelum mencapai tujuan strategisnya. Ia juga menekankan bahwa Washington tidak memiliki jalur keluar yang kredibel maupun skenario kemenangan yang realistis, serta tidak terdapat narasi yang meyakinkan mengenai bagaimana konflik ini dapat diakhiri.
Dalam kerangka tersebut, konflik cenderung bergerak menuju perang atrisi yang berkepanjangan, yaitu bentuk konflik yang justru paling merugikan pihak yang sejak awal mengandalkan kemenangan cepat.
Amerika Serikat kini berada dalam posisi yang sulit. Tidak ada keberhasilan yang cukup untuk diklaim sebagai kemenangan cepat, tetapi keterlibatan yang sudah terlalu dalam membuat penarikan diri membawa konsekuensi politik yang besar.
Dalam sistem global yang saling terhubung, waktu bukan sekutu, melainkan faktor yang memperbesar biaya.
Jeda Bukan Akhir
Kesimpulannya jelas. Konflik ini tidak mengarah pada resolusi, tapi menuju jeda yang rapuh. De-eskalasi, jika terjadi, hanya merupakan penyesuaian tempo. Struktur konflik tetap bertahan, dan selama kondisi tersebut tidak berubah, potensi eskalasi ulang akan terus terbuka.
Dalam konteks seperti ini, bahaya terbesar bukan terletak pada kemungkinan kekalahan. Bahaya terbesar justru berada pada ilusi kendali, yaitu keyakinan bahwa situasi masih dapat diatur, padahal kenyataannya telah berkembang melampaui jangkauan siapa pun.
Lebih jauh lagi, konflik ini tidak hanya mencerminkan krisis regional, tetapi juga menunjukkan pergeseran dalam tatanan global. Distribusi kekuatan, kontrol energi, dan stabilitas sistem internasional sedang mengalami perubahan yang belum menemukan titik keseimbangan, dan belum ada aktor yang benar-benar siap mengelola konsekuensinya.
