Gencatan Senjata: Keputusan Murni Lebanon, Bukan Intervensi Iran (4)
POROS PERLAWANAN – Menanggapi spekulasi tentang siapa yang berada di balik keputusan gencatan senjata, Syekh Naim Qasim dengan tegas menyatakan bahwa keputusan untuk menerima gencatan senjata merupakan keputusan nasional Lebanon yang diambil secara independen dan terkoordinasi penuh di dalam struktur komando Hizbullah.
“Keputusan itu sepenuhnya keputusan Lebanon. Kami hanya memberi tahu Iran tentang keputusan kami, bukan meminta persetujuan mereka, apalagi intervensi,” tegasnya.
Ia melanjutkan bahwa struktur komando Hizbullah, mulai dari garis depan selatan hingga ke pusat, tersusun rapi dan saling terhubung, memungkinkan setiap keputusan, baik melanjutkan perang maupun menerima gencatan senjata diambil melalui koordinasi menyeluruh.
Syekh Qasim membantah keras tuduhan bahwa Republik Islam Iran telah meminta Hizbullah untuk menghentikan perang: “Tuduhan bahwa Iran meminta kami untuk menghentikan perang adalah kebohongan mutlak. Kami mengambil keputusan itu sendiri dan menyampaikan niat tersebut kepada Teheran. Iran tidak meminta apa pun kepada kami. Semua pihak tahu bahwa keputusan ini adalah keputusan Lebanon, dan bahkan Pemerintah Lebanon pun menyetujuinya melalui perantara diplomatik dan negosiasi tidak langsung.”
Iran dan Poros Perlawanan: Pilar Stabilitas, Bukan Pemicu Konflik
Menyoroti peran Iran selama pertempuran, Syekh Qasim menjelaskan bahwa dukungan Teheran terhadap Poros Perlawanan selalu komprehensif namun tidak intervensif: “Iran menilai dengan cermat bahwa setiap keterlibatan langsung berarti membuka pintu bagi intervensi Militer AS, dan hal itu justru akan menguntungkan Zionis, yang berusaha keras menyeret AS ke medan perang.”
Ia menambahkan: “Iran tahu perannya, dan mereka telah menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh. Tidak ada satu pun pihak dari Poros Perlawanan yang meminta Iran untuk campur tangan langsung, dan mereka pun tidak menganggap hal itu perlu, karena dukungan yang diberikan sudah sangat memadai bahkan lebih dari cukup.”
Mengenai pengawasan langsung dari Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Syekh Naim Qasim mengungkap: “Imam Sayyid Ali Khamenei memantau perkembangan Gaza dan Lebanon setiap hari, menerima laporan terperinci, dan secara langsung mengarahkan agar semua bentuk dukungan diberikan kepada Perlawanan. Apa lagi yang bisa kita minta?”
Dukungan Iran Tak Harus Berbentuk Intervensi Militer
Sekjen Hizbullah menekankan bahwa bentuk dukungan tidak selalu berarti kehadiran militer langsung: “Setiap pihak dalam Poros Perlawanan berkontribusi berdasarkan kapabilitas dan pertimbangannya sendiri. Iran melakukan apa yang paling tepat untuk saat ini dan telah memberikan semua yang bisa diberikan.”
Suriah: Fase Transisi yang Tak Menguntungkan Poros Perlawanan
Membahas dinamika geopolitik di Suriah, Syekh Qasim menyatakan bahwa perkembangan terbaru di Suriah justru memperburuk posisi strategis Poros Perlawanan: “Dulu, Pemerintah Suriah berperan vital dalam mendukung Palestina dan menjadi koridor logistik Perlawanan. Namun dengan perubahan kepemimpinan dan struktur negara, dukungan itu kini terancam.”
Terkait fase transisi yang kini dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jolani, ia menjawab tegas: “Hizbullah tidak terlibat dan tidak punya hubungan apa pun dengan konfigurasi internal Suriah pascaperistiwa tersebut. Kami hanya berharap rakyat Suriah bisa menciptakan sistem yang mandiri, representatif, dan tegas melawan Zionisme. Sebab, Israel adalah musuh kami bersama, dan juga musuh Suriah.”
Ia mengingatkan tentang bahaya laten yang muncul akibat kekacauan baru: “Setelah pembantaian ribuan warga Alawi dan warga Suriah lainnya oleh pasukan rezim baru, masa depan Suriah masih menjadi teka-teki besar. Kita belum tahu bentuk pemerintahan seperti apa yang akan terbentuk dan apakah ia akan berfungsi dalam kerangka nasionalisme sejati atau tidak.”
CATATAN REDAKSI: Garis besar yang ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal Hizbullah sangat jelas: keputusan perang dan damai diambil sendiri, tanpa paksaan atau intervensi eksternal. Iran adalah pendukung utama, bukan dalang dalam setiap langkah Perlawanan. Kini, medan geopolitik, dari Gaza hingga Suriah, terus bergerak, menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh anggota Poros Perlawanan.
Bersambung…
